Berita Surabaya

Manekin Lengan Manusia Kini Tak Mahal Lagi Berkat 5 Mahasiswa Kedokteran Unair ini

Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) membuat peralatan sarana klinis untuk mendiagnosis dan melakukan penatalaksanaan kesehatan

Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Musahadah
surya/sulvi sofiana
Mahasiswa FK UNAIR mempraktikkan alat klinis medis hasil inovasinya berupa Electronical Injecting Mannequin (Eliquin), Sabtu (10/6/2017) 

SURYA.co.id | SURABAYAFakultas Kedokteran dikenal sebagai pendidikan kaum elit dengan biaya pendidikan yang tinggi tidak hanya di tiap semester, tetapi juga pada uji praktek yang harus ditempuh mahasiswa.

Seperti salah satu alat peraga praktek berupa alat peraga injeksi.

Alat peraga ini dibutuhkan untuk melatih keterampilan klinis calon dokter.

Hal ini juga salah satu penentu amat penting dalam mendiagnosis dan penatalaksanaan masalah kesehatan.

Berdasarkan Standar Kompetensi Dokter Indonesia (SKDI) tahun 2012, seorang dokter dituntut mampu melakukan prosedur klinis yang berkaitan dengan kesehatan dengan menerapkan prinsip keselamatan pasien, keselamatan diri sendiri, dan keselamatan orang lain.

Sayangnya, alat peraga berupa manekin lengan manusia ini biasa di produksi di luar negeri. Dan harganya mencapai mencapai Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta.

Menyadari hal ini, Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) membuat peralatan sarana klinis untuk mendiagnosis dan melakukan penatalaksanaan kesehatan yang berupa Electronical Injecting Mannequin (Eliquin).

Mereka yaitu Lidya Pertiwi, Siti Ermawati, Mega Rizkya, Annisa Aulia, dan Muchlas Rabbani yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) Bidang Kewirausahaan (PKMK).

Lidya, ketua tim mengungkapkan, produk inovatif Eliquin yang mereka buat dapat dipasarkan dengan harga Rp 599.000.

Selain lebih murah, mereka mengklaim produk manekinnya lebih fleksibel, dan fungsional dibandingkan dengan produk manekin impor.

“Eliquin ini merupakan alat peraga injeksi pertama yang menggabungkan dua aplikasi injeksi, yakni injeksi intramuskular dan intravena dalam bentuk manekin tangan manusia yang berisi sensor dan diletakkan pada lokasi injeksi,” paparnya pada SURYA.co.id, Sabtu (10/6/2017).

Dalam dunia kedokteran, tambah Lidya, Eliquin akan bermanfaat untuk melatih ketrampilan klinis menyuntik secara intravena dan intramuscular yang wajib dikuasai oleh tenaga medis.

”Jadi jika seorang pengguna secara benar dalam melakukan injeksi intramuskular, maka sensor akan mengeluarkan bunyi dan lampunya menyala,” jelasnya.

Sensor pada produk ini diletakkan pada lokasi, kedalaman, dan sudut kemiringan injeksi yang akurat dan disesuaikan dengan anatomi tubuh manussia.

Selain itu, Eliquin ini dilapisi oleh bahan lateks yang tahan lama, halus dan sesuai dengan anatomi kulit manusia, sehingga pengguna akan merasa nyaman dan tidak merasa canggung saat berhadapan dengan pasien.

Halaman
12
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved