VIDEO - Waspadalah, Ada Boraks dan Rodhamin dalam Takjil di Kota Blitar
Jangan sembarang beli makanan untuk takjil. Sebab, kalau salah pilih bisa dapat jajanan yang mengandung zat berbahaya ini.
Penulis: Samsul Hadi | Editor: Eben Haezer Panca
SURYA.co.id | BLITAR – Petugas Dinas Kesehatan Kota Blitar menemukan zat berbahaya berupa boraks dan rodhamin dalam jajanan yang dijual di pasar takjil Ramdan, Jl A Yani, Kota Blitar.
Zat berbahaya itu ditemukan di jajanan mutiara (bahan minuman) dan krupuk puli.
“Kami baru dua kali menggelar sidak. Pada sidak pertama kami menemukan zat berbahaya boraks dan rodhamin di jajanan yang dijual di pasar takjil,” kata Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Blitar, dr Dharma Setiawan, di sela-sela menggelar sidak kedua di pasar takjil, Rabu (7/6).
Sama seperti sidak pertama, pada sidak hari kedua ini, petugas dari Dinkes mengambil 10 sampel jajanan yang dijual di pasar takjil. Sepuluh sampel yang diambil itu langsung diuji di lokasi. Dinkes membawa satu mobil unit farmasi ke lokasi.
Sampel jajanan yang diambil mulai sosis, kerak telur, pentol, dan sayuran. Untuk minumannya, petugas mengambil sampel susu kedelai, mutiara, dan minuman berwarna lainnya. Petugas juga mencatat nama dan nomor telepon pedagang takjil.
“Tidak kami periksa semua. Tiap jajanan yang sejenis kami ambil sampel dua,” ujarnya.
Targetnya, selama Ramadan ini, Dinkes akan menggelar sidak sebanyak empat kali. Jumlah jajanan yang akan diuji sebanyak 40 jajanan. Tiap kali sidak, petugas Dinkes mengambil 10 sampel dari pedagang di pasar takjil.
“Untuk sampel yang kami ambil hari ini baru besok kami bisa mengumumkan hasilnya,” katanya.
Dikatakannya, pedagang yang diketahui menjual jajanan yang mengandung zat berbahaya hanya diperingatkan saja. Petugas juga meminta agar pedagang tersebut memusnahkan jajanan yang mengandung zat berbahaya.
“Kemarin, pedagangnya langsung membakar makanan yang diketahui mengandung zat berbahaya,” katanya.
Slamet Riyadi, pedagang sosis di pasar takjil mengatakan sudah dua kali ini jajanannya diperiksa petugas Dinkes. Tetapi, petugas tidak menemukan zat berbahaya di dagangannya. Sosis yang ia jual hasil beli dari toko. Ia hanya membakar atau menggorengnya kembali.
“Saya tidak tahu apa itu boraks atau rodhamin. Saya beli sosis kemasan yang sudah jadi. Lalu saya goreng dan bakar kembali. Masak sosis yang saya beli sudah ada daftar BPOM-nya masih mengandung zat berbahaya,” kata bapak tiga anak asal Kauman, Kota Blitar itu.