Jelang Pilgub Jatim 2018

Direktur LSR M Mufti Mubarok: Peluang Calon Tunggal di Jatim Tipis

Kecilnya peluang pencalonan tunggal tersebut disebabkan oleh beberapa hal. Pertama karena besarnya modal finansial yang harus disiapkan kandidat.

Direktur LSR M Mufti Mubarok: Peluang Calon Tunggal di Jatim Tipis
surya/bobby constantine koloway (Bobby)
Direktu LSR M Mufti Mubarok 

SURYA.co.id | SURABAYA  - Adanya beberapa partai politik yang membuka peluang calon tunggal patut menjadi perhatian. Meskipun selama ini, pilkada untuk tingkat Jatim belum pernah terjadi adanya calon tunggal, namun potensi untuk melakukan hal itu masih bisa saja terjadi.

Kecilnya peluang pencalonan tunggal tersebut disebabkan oleh beberapa hal. Pertama karena besarnya modal finansial yang harus disiapkan kandidat. Untuk menyolidkan seluruh partai yang berjumlah sepuluh tidaklah mudah. Apalagi kalau sekadar komitmen lisan tanpa adanya "politik transaksional".

Sudah bukan rahasia lagi, untuk "memborong" seluruh partai diperlukan biaya yang tak murah. Bahkan besaran dana yang disipakan oleh kandidat bisa mencapai Rp800 miliar hingga Rp1 triliun.

Bukan hanya soal besaran modal finansial yang harus disiapkan, basis dukungan di Jatim juga masih sangat mungkin terbelah. Bahkan, untuk kalangan Nahdlatul Ulama (NU) sekalipun.

Meskipun kiai sepuh NU telah mengeluarkan rekomendasi untuk mendukung salah satu calon, hal tersebut belum sepenuhnya menggaransi dukungan dari NU. Sebab, selain masih ada friksi, di internal NU juga mempunyai banyak tokoh yang apabila dijagokan sebagai cagub masih sangat menjual.

Namun, keputusan tetap ada di partai. Meskipun kursi koalisi kalah banyak dengan koalisi partai besar, bukan berarti potensi kemenangan juga kecil. Fenomena ini bisa berkaca pada pilkada di DKI Jakarta lalu.

Sebaliknya, apabila partai besar tersebut justru telah lempar handuk dan sepakat dengan calon yang sudah ada, maka calon tunggal itu bisa terjadi.

Selain itu, para kandidat calon ini harus segera merapat ke masing-masing partai yang bisa diharapkan bisa mengusungnya.

Sebab, untuk bisa maju jalur independen di Jatim sangat berat. Salah satunya mengumpulkan 6,5 persen KTP dari total jumlah penduduk Jatim atau sekitar tiga juta itu tidak lah mudah.

Penulis: Bobby Constantine Koloway
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved