Senin, 20 April 2026

VIDEO - Beginilah Uniknya Suasana Ngabuburit di Ponpes Salafiyah Syafi'iyah Situbondo

Para santri di Ponpes Salafiyah Syafi'iyah di Situbondo punya cara unik menghabiskan waktu ngabuburit selama puasa Ramadhan.

Penulis: Galih Lintartika | Editor: Eben Haezer Panca

SURYA.co.id | SITUBONDO - Tidak ada kegiatan khusus yang dilakukan para santri Pondok Pesantren (Ponpes) Salafiyah Syafi'iyah di Dusun Sukorejo, Desa Sumberejo, Kecamatan Banyuputih, Kabupaten Situbondo,saat bulan Ramadan.

Mereka menganggap bahwa bulan ramadan itu bulannya untuk istirahat dari segala macam aktivitas dan fokus untuk beribadah.

Jadi, selama ramadan, para santri di Pondok ini menghabiskan waktu untuk beribadah. Oleh karena itu, mereka diberikan waktu libur panjang agar bisa dimanfaatkan untuk menjalankan ibadah sebanyak - banyaknya.

Bagi sebagian santri waktu itu digunakan untuk pulang ke kampung halaman. Namun, ada sebagaian santri yang memilih tetap bertahan di pondok dan menghabiskan sebagian masa libur ramadan di pondok.

Bagi yang memilih bertahan di pondok, ada tradisi unik yang dilakukan para santri. Secara aturan, mereka mendapatkan jatah makanan untuk buka puasa dan sahur.

Namun, para santri memiliki tradisi sendiri. Mereka tetap memasak meski sudah mendapatkan jatah makanan. Alasannya sederhana, mereka ingin tetap menjaga kekompakan dan keakraban satu sama lain.

Dari pengamatan Surya, masakan para santri ini sangat sederhana dan jauh dari kata mewah. Bahkan, beberapa santri pun mengakui bahwa masakan mereka ini terkadang tidak ada rasanya dan cenderung hambar.

"Kadang kurang garam, kadang kebanyakan sampai rasanya asin, dan sebagainya. Tapi kami senang, karena kami ini keluarga. Masak bareng ini membuat tali persaudaran kami semakin erat," kata Dimas salah satu santri.

Dimas mengatakan, menu makanan buka puasa yang diberikan pondok itu jauh lebih cukup sebenarnya. Secara perhitungan gizi, makanan dari pondok lebih terjamin. Namun, ia dan rekan - rekannya merasa kurang afdol semisal tidak memasak sendiri.

"Rasanya ada yang kurang kalau tidak masak itu. Selain itu masak bersama ini juga kami gunakan untuk ngabuburit menunggu waktu berbuka puasa," terangnya.

Menurut dia, dalam masak itu, ada canda dan gurau antar para santri. Jadi, suasana membaur jadi satu dan membuat lapar ataupun haus tidak terasa.

"Kami biasanya mulai masak jam 4 sore. Masaknya sih macam - macam, tapi ada menu yang tidak boleh dihilangkan. Yakni tahu , tempe dan sambal. Tiga item itu tidak boleh ketinggalan," jelasnya.

Salah satu santri lainnya, Hasan mengatakan bahwa selain memasak, biasanya, santri - santri juga menghabiskan waktu menunggu berbuka puasa dengan bermain. ada semacam permainan sederhana yang dibuat sendiri.

"Batu kami mainkan. Jadi pemainnya itu menggunakan jari tangan.Siapa yang berhasil memasukkan batu dalam gawang itulah pemenangnya," pungkasnya. 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved