Pendapat

Fenomena Ahok dan Tantangan Indonesia ke Depan

Fenomena Ahok ini hendaknya jangan membuat bangsa Indonesia dan kaum muslim menjadi terpecah-belah akibat perbedaan pendapat.

Fenomena Ahok dan Tantangan Indonesia ke Depan
tribunnews
Ahok dan Demo 212. 

Kita tengok kondisi saat ini dimana setiap orang bebas berkicau di media sosial, uraian kebencian memenuhi media massa dan elektronik, masing-masing orang berpendapat dan saling menyerang di dunia maya.

Hal langka yang tidak mungkin kita temukan di era orde baru.

Negara ini sedang belajar menjadi negara yang matang berdemokrasi namun kebebasan demokrasi ini hendaknya diikuti dengan rasa tanggung jawab dan tidak memecah-belah persatuan Indonesia.

Mengambil istilah dari Presiden Joko Widodo, jangan sampai demokrasi kita menjadi demokrasi yang kebablasan.

Ketika demonstasi dilakukan dalam batas yang wajar tentu tidak menjadi masalah karena memang sistem demokrasi kita juga menganut sistem check and balance.

Masukan dari rakyat jelas menjadi kewajiban pemerintah untuk mendengarkan. Namun apabila demo kita sudah “overdosis” tentu menjadi masalah buat negara ini.

Ketika demo ini berlanjut menjadi setiap bulan atau bahkan setiap minggu, hal ini tidak dibenarkan karena sudah mengganggu stabilitas politik dan ekonomi di negara ini apapun alasannya.

Tidak mungkin Polri atau TNI mengeluarkan anggaran untuk mengamankan demonstasi terus-menerus sedangkan permasalahan keamanan negara ini tidak hanya untuk demonstasi.

Banyak sekali kasus kejahatan di Indonesia seperti korupsi, narkoba, terorisme, dan pembunuhan yang memerlukan fokus aparat keamanan negara untuk dituntaskan.

Kita juga harus melihat fakta bahwa perekonomian global tengah memburuk, negara kita juga sedang dalam proses pembangunan. Tanpa adanya stabilitas politik, mustahil perekonomian suatu negara dapat tumbuh terus-menerus.

Tidak akan berani para investor berinvestasi di Indonesia ketika jutaan rakyat Indonesia sering turun ke jalan. Bagaimanapun juga kita harus memprediksi skenario terburuk.

Umat Muslim Yang Bersatu

Demo terbesar dalam sejarah umat muslim di Indonesia ini tentu menjadi prestasi tersendiri.

Luar biasa sekali ketika jutaan umat muslim turun ke jalan dan aksinya berlangsung damai dan tertib, bahkan berhasil menjaga kebersihan jalan yang dilalui dan sama sekali tidak menginjak taman.

Banyak orang merasa takjub dengan aksi 411 dan 212 ini yang menjadi berita utama di seluruh dunia.

Kekuatan massa yang besar ini ternyata mampu diimbangi dengan kecintaan terhadap bangsa Indonesia dan tidak berdasarkan nafsu politik atau nafsu untuk merebut kekuasaan secara instan.

Ada beberapa catatan yang penulis perlu sampaikan terhadap peristiwa ini.

Perbedaan pendapat tentu tidak dapat dihindarkan dalam kasus penistaan agama oleh Ahok.

Banyak ulama yang menganggap bahwa Ahok terang-terangan menista agama dan ada sebagian ulama yang beranggapan bahwa Ahok tidak ada niatan untuk menista Al-Qur’an dan itu hanya merupakan kebiasaan jelek Ahok yang bicaranya sering tidak terkontrol.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) bahkan telah mengeluarkan fatwa bahwa Gubernur DKI Basukti Tjahaja Purnama telah dikatagorikan menghina Al-Qur’an atau menghina ulama.

Tentu sebagai manusia, kita tidak tahu apa isi hati dari seorang Ahok saat itu? Yang tahu isi hati Ahok hanyalah Ahok sendiri dan Allah SWT.

Hati boleh panas namun kepala harus tetap dingin. Ulama-ulama senior turun gelanggang untuk mengutarakan pendapat.

Mayoritas memang setuju bahwa ini adalah penistaan Al-Qur’an namun ada ulama sepuh seperti Buya Syafii Maarif dan KH Mustofa Bisri (Gus Mus) yang kurang sependapat dengan aksi turun ke jalan ini.

Siapa yang menyangsikan keislaman seorang Syafii Maarif? Beliau adalah mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, salah satu ormas muslim terbesar di Indonesia.

Begitu juga dengan Gus Mus, mantan Rais Am PBNU yang notabene ormas muslim terbesar di Indonesia. Bahkan pada muktamar NU terakhir tahun 2015 beliau tidak bersedia dicalonkan kembali menjadi Rais Am PBNU.

Beliau-beliau sudah terbukti rekam jejaknya dan kontribusinya bagi umat muslim di Indonesia namun saat ini beliau-beliau dipojokkkan hanya karena berbeda pendapat.

Hanya karena opini publik sudah terbentuk bahwa Ahok telah menistakan agama, maka ketika ada orang yang berbicara berbeda lalu dianggap kontroversial.

Untuk ke depan, mari kita budayakan prinsip bahwa perbedaan pendapat bukan lah tanda permusuhan yang harus disikapi dengan cara brutal dan biadab.

Bagi saya yang masih muda, Buya Syafii Maarif dan Gus Mus adalah sosok orang tua dan sosok negarawan yang masih dibutuhkan bangsa ini.

Jangan hanya karena satu kejadian, kita jadi mudah untuk menilai orang dan melupakan rekam jejak dan jasa-jasa yang sudah beliau lakukan untuk negara ini.

Perbedaan pendapat tidak perlu disikapi dengan kata-kata kotor, tetapi dengan dialog dari hati ke hati. Jangan sampai kebencian kita kepada suatu kaum membuat kita tidak adil dalam bersikap.

Tantangan Indonesia ke Depan

Sebagai penutup, fenomena Ahok ini hendaknya menjadi pembelajaran bagi kita semua dan tidak membuat kita lupa tantangan bangsa Indonesia ke depan bahwa persaingan antar negara menjadi suatu hal yang tidak terelakkan.

Persaingan saat ini bukan antar kota dan antar provinsi melainkan antar negara.

Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang berkualitas untuk menjadikan perwujudan sila ke-5 Pancasila yaitu keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Indonesia sebagai bangsa muslim terbesar di muka bumi harus menjadi tuan di negeri ini dengan cara membuang jauh-jauh mentalitas perpecahan yang masih diidap oleh sebagian kita.

Saya teringat hasil penelitian Prof Rehman dan Prof Askari dari George Washington University pada tahun 2010 terhadap negara-negara yang menjalankan roda pemerintahan paling islami.

Ternyata dari 208 negara yang diteliti, peringkat pertama adalah Selandia Baru, lalu diikuti Luxemburg dan Irlandia.

Sedangkan 56 anggota Negara anggota Organisasi Konferensi Islam (OKI) rata-rata berada pada urutan ke 139. Negara OKI tertinggi peringkatnya adalah tetangga kita, Malaysia (38), Kuwait (48) dan Bahrain (64).

Indonesia sendiri berada pada peringkat 140.

Berdasarkan kesimpulan penelitian di atas, negara yang mayoritas penduduknya muslim belum tentu menjalankan roda pemerintahan paling islami.

Artinya banyak negara non islam namun mereka lebih islami dalam menjalankan kehidupan bernegara mereka.

Jika tidak ada perubahan secara mendasar dalam sikap mental kita, jangan berharap agar do'a panjang akan didengar Allah SWT.

Terimakasih untuk saudara Ahok, tanpa adanya peristiwa ini tidak akan bisa kita petik pelajaran sebanyak ini.

Sumber:
”An Economic Islamicity Index (EI2)” yang dimuat dalam Global Economy Journal Volume 10, Issue 3, 2010, Article 1.
https://beritagar.id/artikel/arena/index.php/artikel/berita/benarkah-ketimpangan-di-indonesia-makin-gawat(Diakses pada tanggal 27 Februari 2017)
http://www.republika.co.id/berita/koran/opini-koran/16/04/27/o6a64510-pancasila-antara-cita-dan-fakta-bagian-1(Diakses pada tanggal 27 Februari 2017)
http://www.indonesia-investments.com/id/news/todays-headlines/gini-ratio-indonesia-declines-economic-inequality-narrows/item7113?(Diakses pada tanggal 27 Februari 2017)

Editor: Musahadah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved