Pendapat

Fenomena Ahok dan Tantangan Indonesia ke Depan

Fenomena Ahok ini hendaknya jangan membuat bangsa Indonesia dan kaum muslim menjadi terpecah-belah akibat perbedaan pendapat.

Fenomena Ahok dan Tantangan Indonesia ke Depan
tribunnews
Ahok dan Demo 212. 

Tanpa adanya ucapan sang Gubernur mungkin tidak pernah terjadi peristiwa 411 dan 212 tatlaka umat muslim dari seluruh penjuru Indonesia yang berjumlah jutaan orang turun ke jalan melakukan doa bersama di Jakarta.

Umat muslim baik dari kalangan NU, Muhammadiyah, FPI, dan kelompok-kelompok lain datang bergabung dan membaur menjadi satu dalam kegiatan yang menjadi peristiwa terbesar sepanjang sejarah umat Islam di Indonesia.

Hal yang perlu kita ingat ada dua yaitu adanya fenomena Ahok ini hendaknya jangan membuat bangsa Indonesia dan kaum muslim menjadi terpecah-belah akibat perbedaan pendapat.

Kedua, energi umat yang besar ini jangan hanya digunakan untuk mendemo seorang Ahok semata, namun juga momen untuk membangun Indonesia lebih baik ke depan.

Jangan sampai kita berpikir bahwa dengan masuknya Ahok ke penjara seolah-olah permasalahan bangsa kita akan selesai saat itu juga. Itu tentu hal yang keliru.

Negara Berketuhanan

Mari kita tengok fakta sejarah. Pada 22 Juni 1945, Panitia Sembilan menyetujui Piagam Jakarta yang berisi Pembukaan UUD, dimana terkandung Pancasila sebagai dasar negara yang susunannya adalah (1) Ketuhanan dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Para Pemeluknya (2) Kemanusiaan yang Adil dan Beradab (3) Persatuan Indonesia (4) Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan Permusyawaratan Perwakilan (5) Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.

Bung Karno meminta supaya dalam Sidang Pleno BPUPKI, kelompok nasionalis Pancasila menerima Piagam Jakarta.

Menjelang peresmian UUD, Panitia Persiapan Kemerdekaan menghadapi penolakan pada saat-saat terakhir, para tokoh Islam yang merumuskan sila pertama itu dengan sikap negarawan yang bijak menyetujui perubahan sila pertama menjadi Ketuhananan Yang Maha Esa.

Partai-partai Islam di dalam sidang Konstituante (1956-1959) memperjuangkan kembali dasar negara Islam, tetapi kalah dalam pemungutan suara; 46,7 persen untuk partai Islam dan 53,3 persen untuk partai-partai pendukung Pancasila.

Halaman
1234
Editor: Musahadah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved