Wow, Jaksa Tuntut Mati Terdakwa Pengendali Narkoba Dari LP Nusakambangan

Jaksa menuntut hukuman mati untuk Hadi Sunarto, terdakwa dalam kasus narkoba yang diduga mengendalikan peredaran narkoba dari LP Nusakambangan.

Wow, Jaksa Tuntut Mati Terdakwa Pengendali Narkoba Dari LP Nusakambangan
Surabaya.tribunnews.com/Anas Miftakhudin
Hadi Sunarto (kiri) alias Yoyok saat mendengar tuntutan mati yang dibacakan oleh Jaksa Penuntut Umum dalam sidang di PN Surabaya, Senin (29/5/2017). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Pengendali peredaran sabu sabu (SS) dari LP Nusakambangan, Hadi Sunarto alias Yoyok dituntut hukuman mati oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Gusti Putu Karmawan di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (29/5/2017).

Dalam amar tuntutan yang dibacakan Jaksa Karmawan, tuntutan mati itu dikarenakan barang bukti perkara lebih dari 1 Kg.

"Tidak ada alasan yang meringankan pada perbuatan terdakwa," kata Jaksa Karmawan saat membacakan tuntutannya dalam persidangan yang berlangsung di ruang Tirta.

Ketika tuntutan dibacakan, Hadi Sunarto alias Yoyok sempat terperangah sambil menggelengkan kepala dengan tuntutan yang sangat berat itu.

Karena saat sidang pemeriksaan saksi, seperti jaksa saat menghadirkan Aiptu Abdul Latif yang sudah divonis mati dan Tri Diah Torrisiah juga vonis mati, terdakwa mengaku tidak kenal. Bahkan terdakwa berdalih jika di LP Nusakambangan tidak ada sinyal ponsel.

Rupanya, Ketua Majelis Hakim, Hariyanto SH justru memberi support Yoyok yang membuatnya kembali rileks. "Itu baru tuntutan jaksa, belum putusan, tenang saja," ucap hakim Hariyanto pada terdakwa.

Atas tuntutan itu, Yoyok melalui tim kuasa hukumnya, Didik Sungkono SH mengaku akan mengajukan pembelaan atau pledoi.

"Saya beri waktu dua minggu untuk menyusun pembelaan," kata hakim Hariyanto sembari mengetukkan palu.

Dalam kasus ini, Yoyok adalah terdakwa kasus narkotika yang menghuni LP Nusa Kambangan. Yoyok kembali tersangkut kasus serupa setelah Reskoba Polrestabes Surabaya berhasil mengagalkan peredaran narkotika dari tangan Aiptu Abdul Latif dan Indri Rahmawati serta Tri Torriasih alias Susi.

Dari 50 kg SS yang disuplai dari Yoyok, polisi hanya menyita 13 kg SS saja. Sebanyak 37 kg SS itu sudah terjual melalui tangan Abdul Latif dan Indri Rahmawati. Abdul Latif dan Indri dalam persoalan ini divonis mati.

Proses hukum Yoyok terkesan lambat dari ketiga jaringannya. Yoyok baru didudukan sebagai pesakitan saat ketiga jaringannya sudah dihukum oleh hakim PN Surabaya.

Di PN Surabaya, Aiptu Abdul Latif telah divonis mati dan vonis itu diperkuat Pengadilan Tinggi (PT) Surabaya setelah ia mengajukan upaya hukum. Kini kasusnya masih dalam proses kasasi di Mahkamah Agung (MA)

Sementara, Indri Rahmawati divonis seumur hidup oleh PN Surabaya, tapi oleh PT Surabaya diperberat menjadi hukuman mati. Tak terima atas vonis mati itu, Indri akhirnya mengajukan kasasi ke MA. Sementara vonis Tri Diah Torriasih alias Susi justru berbalik, oleh PT Surabaya, vonis Susi diturunkan dari hukuman mati ke hukuman seumur hidup. Turunnya vonis tersebut langsung dikasasi oleh Kejari Surabaya. 

Penulis: Anas Miftakhudin
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved