Sambang Kampung

Dulu Dikenal Sebagai Kampung Cum-cum, Kini Jadi Kampung Murup

RT 3/RW 11 Kedungdoro dulunya dikenal sebagai kampung cum-cum, kini mereka ingin dikenal sebagai kampung mural, tapi tetap tanpa meninggalkan cum-cum.

Dulu Dikenal Sebagai Kampung Cum-cum, Kini Jadi Kampung Murup
surabaya.tribunnews.com/Ahmad Zaimul Haq
Mural bergambar kue cum-cum menghiasi salah satu dinding di kampung RT 3/RW 11 Kelurahan Kedungdoro, Kecamatan Tegalsari, Surabaya. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Sebelum mempopulerkan dirinya sebagai Kampung Murup, kampung RT 3/RW 11 Kelurahan Kedungdoro, Kecamatan Tegalsari, Surabaya, lebih duluh terkenal sebagai kampung cum cum. 

Penyebabnya, apalagi kalau bukan karena banyaknya warga di sana yang memproduksi kue kering cum-cum. Setidaknya, tak kurang dari 20 keluarga hidup dari memproduksi jajanan tersebut. 

Penyebabnya, banyak warga di kampung ini yang memroduksi kue kering cum cum. Ada lebih dari 20 keluarga.

"Mereka produksi kue cum cum sampai seribu biji per hari. Dipasok kebanyakan di Pasar Kembang," kata Sulistyowati, Ketua RT 3.

"Sebenarnya tidak hanya produksi kue cum cum saja. Tetapi bermacam-macam, aneka kue basah," sambungnya.

Ke depan, pihaknya berharap, identitas Kampung Murup ini bisa mengangkat perekonomian warga. Bahkan, kalau bisa tidak perlu berjualan ke luar kampung. Cukup di dalam kampung saja. Khususnya jika sudah banyak wisatawan yang datang.

Pemilik sanggar Teras Warna, Faisal Yonaf mengatakan, pengecatan kampung tidak akan berhenti sampai di sini. Akan terus berlanjut penguatan budaya di Surabaya, untuk dicantumkan di mural yang ada.

"Kami ingin jadi kampung wisata. Tujuannya, bisa menghidupkan UMKM di kampung ini. Saat banyak yang kenal kampung Murup, akan datang ke sini, dan membeli kue cum cum sebagai oleh oleh khas," ujar Faisal.

Mereka rencananya akan mengedukasikan aksara Jawa dalam mural, untuk mengajari anak-anak budaya Jawa. Tidak hanya itu, bekerja sama dengan kampung dolanan, mereka akan menghidupkan permainan tradisional di Kampung Murup. 

Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved