Kamis, 9 April 2026

Jadi Fashion Ilustrator Tak Bisa Hanya Belajar Lewat YouTube

BELAJAR FASHION ILLUSTRATOR. Desainer asal Banyuwangi ini mengaku masih mengalami kesulitan menggambar sosok manusia yang proporsional.

Penulis: Achmad Pramudito | Editor: Yuli
a pramudito
Para desainer pemula tampak serius belajar menguasai cara menggambar sosok manusia secara proporsional dengan arahan Enrico, salah seorang mentor di acara Workshop Fashion Illustration di Hotel Swiss Bellin, Manyar, Surabaya, Sabtu (27/5/2017). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Membuat gambar tubuh manusia yang proporsional menjadi langkah awal seorang fashion illustrator untuk membuat sebuah busana sesuai keinginan.

Ternyata langkah awal ini tidak sesederhana yang dibayangkan banyak orang.

Sanet Sabintang misalnya. Desainer asal Banyuwangi yang sudah menggeluti dunia fashion sejak setahun silam ini mengaku masih mengalami kesulitan menggambar sosok manusia yang proporsional.

“Memang selama ini saya hanya belajar menggambar lewat YouTube, buku, dan Instagram. Ternyata tak gampang mewujudkan gambar sosok manusia yang bentuk badan, tangan, dan wajahnya bisa proporsional,” kata Sanet, Sabtu (27/5/2017).

Karena kendala itu pula Sanet kontan merespons positif ketika ada tawaran ikut Workshop Fashion Illustrasion yang digagas desainer Geraldus Sugeng.

“Workshop sehari memang sangat singkat, tapi saya akan manfaatkan waktu dengan baik mumpung ketemu orang yang pas untuk belajar,” tutur Sanet yang sebelumnya berprofesi sebagai perawat di sebuah rumah sakit di Yogyakarta.

Workshop di Hotel Swiss-Bellin, Manyar, Surabaya itu diikuti sekitar delapan orang dengan beragam latar belakang profesi. “Tapi, rata-rata mereka belajar gambar secara otodidak,” kata Geraldus Sugeng.

Setelah tahapan proporsi, langkah yang harus dilakukan seorang fashion illustration untuk menguasai ilmu menggambar, menurut Geraldus, adalah menggambar gerak siluet, menggambar lekukan bahan, dan puncaknya adalah pewarnaan.

Tak hanya memperdalam ilmu menggambar sosok manusia secara proporsional, dalam workshop tersebut, Geraldus pun berbagi ilmu tentang pemanfaatan peralatan menggambar dan menguasai pemakaian media yang diperlukan. Selain pensil warna, media yang biasa dipakai oleh fashion illustration diantaranya adalah Marker Copic, dan Pantone.

Yang menarik, Geraldus juga memberi solusi ketika ada peralatan yang diperlukan ternyata tidak tersedia. “Jika kebetulan di saat menggambar tidak tersedia penggaris, saya sampaikan pada mereka bisa menggunakan ruas jari sebagai patokan. Satu ruas jari sama dengan tiga cm,” ungkapnya.

Geraldus mengarahkan ‘murid’nya itu untuk menjadi seorang fashion illustration ketimbang sebagai fashion designer. “Sebab, fashion designer hanya menguasai cara menggambar. Untuk mewujudkan jadi sebuah baju itu pekerjaan fashion illustration,” tandasnya.

Bidang pekerjaan yang bisa dimasuki seorang fashion illustrator pun lebih luas.

Di samping di perusahaan yang berkaitan dengan busana, fashion illustrator bisa pula mengaplikasikan ilmunya di perusahaan media. 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved