Berita Ekonomi Bisnis

Wismilak Optimistis Kebijakan Perluasan Batas Maksimal SKM Tier 2

"Mungkin belum bisa mengembalikan seperti posisi di tahun 2014. Tapi paling tidak lebih baik dibanding tahun 2015 dan 2016 kemarin," jelas Surjanto.

Wismilak Optimistis Kebijakan Perluasan Batas Maksimal SKM Tier 2
surya/sri handi lestari
Surjanto Yasaputera (paling kanan), Sekretaris Perusahaan memberikan keterangan dalam public expose PT Wismilak Inti Makmur Tbk, Jumat (19/5/2017). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Akibat dari kenaikan cukai rokok, industri rokok pada 2015 dan 2016 secara umum pendapatannya cukup rendah. Tidak hanya cukai tetapi juga disebabkan penurunan daya beli masyarakat, hingga iklim yang berpengaruh pada produksi bahan baku.

Namun di tahun 2017, semua industri rokok mulai agresif mengambil porsi untuk menaikkan penjualan. Salah satunya PT Wismilak Inti Makmur Tbk, meski dalam publik expose yang digelar Jumat (19/5/2015) di Surabaya, menyebutkan pendapatan dan laba perusahaan di tahun 2016 turun, tetapi tetap optimis tahun 2017 akan tumbuh positif.

"Mungkin belum bisa mengembalikan seperti posisi di tahun 2014 lalu. Tapi paling tidak lebih baik dibanding tahun 2015 dan 2016 kemarin," jelas Surjanto Yasaputera, Sekretaris Perusahaan Wismilak, usai menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) 2017.

"Beberapa strategi yang kami canangkan tahun lalu sudah kami lakukan secara konsisten dan termonitor. Optimisme ini juga didukung dengan adanya faktor eksternal, yaitu adanya Peraturan Menteri Keuangan tentang Tarif Cukai Tembakau yang memperluas batas maksimal produksi SKM golongan dua (tier-2) menjadi 3 miliar batang per tahun hingga kami memiliki kesempatan menaikkan produksi," jelas Surjanto didampingi Direktur Utama Wismilak, Ronald Wala.

Mereka optimis dengan adanya peraturan baru ini, tentunya melalui kerja keras dan konsistensi penerapan strategi yang secara disiplin dijalankan, bisa mencapai pertumbuhan positif. Apalagi pasar juga mulai meningkat, dan iklim juga lebih baik dibanding tahun 2016 lalu.

Dalam laporannya penjualan bersih Perseroan sebesar Rp 1,685 miliar di tahun 2016, turun 8,4 persen dari Rp 1,839 miliar pada tahun 2015.

Perseroan juga melaporkan laba usaha Perseroan tercatat sebesar Rp 134,4,miliar, lebih rendah 33 persen dibandingkan pada tahun sebelumnya yaitu sebesar Rp 200, 7 miliar.

Di segmen Sigaret Kretek Mesin (SKM), angka penjualan tercatat sebesar Rp 963.8 miliar, lebih rendah 20,6 persen dibandingkan penjualan pada tahun 2015 sebesar Rp 1,214 miliar.

Sedangkan segmen Sigaret Kretek Tangan (SKT), Perseroan berhasil mempertahankan pertumbuhan dengan angka penjualan SKT sebesar Rp 501.3 miliar di tahun 2016, naik 7,2 persen dari Rp 467,5 miliar di tahun sebelumnya.

Kapasitas produksi SKT juga mengalami peningkatan sebesar 5 persen yaitu 730 juta batang, dibandingkan dengan tahun sebelumnya sejumlah 695 juta batang

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved