Citizen Reporter
Jika Dosen Universitas Trunojoyo Madura Turun Gunung
mereka tak hidup dan tinggal di menara gading, maka turun gunung berbagi kemanfaatan dan keberkahan ilmu sudah selayaknya dilakukan ...
Reportase Cicik Tri Jayantie
Pengajar di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Trunojoyo Madura
KETIKA seseorang memilih beraktivitas di dunia perguruan tinggi, entah sebagai dosen ataupun mahasiswa, secara otomatis ia harus menjalankan setidaknya tiga peran.
Peran itu diistilahi sebagai tri dharma perguruan tinggi yang terdiri atas aktivitas pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengembangan, dan pengabdian kepada masyarakat.
Jadi, tak cukup hanya mengajar maupun meneliti, dosen juga diharapkan mampu berkontribusi terhadap masyarakat melalui kegiatan pengabdian
Sabtu (29/4/2017), 12 pengajar di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Trunojoyo Madura (UTM) melakukan kegiatan pengabdian masyarakat ke Kabupaten Sumenep. SMA Yayasan Abdullah dipilih sebagai tujuan yang dibelah menjadi dua sesi, untuk guru dan siswa.
Pengabdian masyarakat dengan tema meningkatkan kompetensi penulisan ilmiah guru itu dibuka dengan materi penelitian tindakan kelas dan penulisan jurnal untuk guru oleh Abdul Rosyid, Kholifah, dan Mixghan Norman.
Ketiganya mewakili prodi untuk membawa misi menumbuhkan benih kompetensi guru dalam hal berliterasi secara ilmiah. Menariknya, di sesi tanya jawab terkuak berbagai persoalan lumrah yang dihadapi guru dalam mengajar di lingkungan pesantren.
Penelitian tindakan kelas yang mengenal sistem pembenahan pola siswa dalam beberapa siklus memungkinkan guru pesantren mengulang belasan siklus yang tak ada ujungnya. Kendala itu terkadang bersumber dari santri yang mengantuk di kelas, mereka yang kurang antusias karena lemas, dan persoalan lain yang ditengarai diakibatkan karena padatnya aktivitas sekolah maupun asrama.
Kendati demikian, pemateri yang sebagian besar pernah nyantri pun mengakui bahwa terlepas dari persoalan yang telah disebutkan tadi, kehidupan pesantren adalah pengalaman yang luar biasa berkesan dan penuh berkah.
Sementara itu, materi jurnalistik sekolah untuk siswa diisi oleh Cicik Tri Jayanti, Salamet Wahedi, dan Jiphie Gilia. Di luar dugaan, ketiganya disambut serentetan pertanyaan kritis seputar subjektivitas media dan tren jurnalisme pesantren. Nah, tren jurnalistik dan sastra pesantren yang difenomenalkan oleh novel trilogi Negeri 5 Menara diakui menjadikan mereka melek literasi.
Terlebih, bioskop kini juga didominasi pemfilman novel karya penulis pesantren, seperti Kang Abik dan Asma Nadia. Dengan itu semua, mereka bertekad mereportasekan kegiatan keseharian yang berlangsung di pesantren.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/utm-mengabdi_20170522_211830.jpg)