Kamis, 9 April 2026

Berita Surabaya

Atasi Tingginya Biaya Pakan, begini Solusi Dilakukan Manajemen KBS

Menurut Choirul saat ini sudah ada beberapa yang mengajukan diri. Setidaknya ada delapan orang yang saat ini sudah mengajukan diri ke PDTS.

Penulis: Fatimatuz Zahro | Editor: Parmin
surya/fatimatuz zahro
JUJUGAN - Pengunjung menyaksikan feeding time Komodo remaja koleksi Kebun Binatang Surabaya (KBS), Minggu (16/4/2017). 

SURYA.CO.ID | SURABAYA - Tingginya biaya pakan untuk satwa di Kebun Binatang Surabaya cukup menuntut Perusahaan Daerah Taman Satwa (PDTS) Kebun Binatang Surabaya (KBS) berpikir keras. Sebab dari pengeluaran KBS yang terbanyak adalah untuk pakan satwa.

Untuk itu, mulai tahun ini PDTS KBS meluncurkan program inovasi baru dengan meluncurkan program bapak asuh satwa. Yaitu menggaet sektor privat untuk ikut serta membantu membiayai biaya para satwa.

Direktur Utama PDTS KBS Choirul Anwar mengatakan memang saat ini biaya pakan cukup mahal. Total di KBS saat ini ada sebanyak 2.800 satwa dari 250 jenis atau species. "Ya untuk pakan itu memang cukup mahal biayanya. Terutama untuk hewan yang karnovira atau yang pemakan daging," kata Choirul, Minggu (21/5/2017).

Setidaknya untuk biaya pakan satwa bisa mencapai puluhan juta perhari. Lebih dari Rp 20 juta per harinya. Oleh sebab itu dikatakan mantan direktur PDAM Pasuruan perlu ada terobosan untuk bisa meringankan operasional pakat satwa karnivora.

"Ini yang sedang kami pikirkan untuk bapak asuh. Jadi kita menawarkan pada publik untuk membantu memberi pakan satwa kita," ucap Choirul.

Beberapa satwa yang diajukan untuk diikutkan program bapak asuh adalah harimau, singa, orang utan, gajah, komodo. Serta sejumlah satwa yang dilindungi dan apendik satu.

Menurut Choirul saat ini sudah ada beberapa yang mengajukan diri. Setidaknya ada delapan orang yang saat ini sudah mengajukan diri ke PDTS. Namun sampai saat ini dikatakan Choirul belum diberi keputusan.

Sebab pihaknya mengaku masih merumuskan untuk sistem kerja sama paling baik antara PDTS KBS dengan pemberi program bapak asuh satwa ini. Dan sejauh apa kerja sama yang bisa diberikan bapak asuh satwa.

"Kita identifikasi dulu, yang kita cari ini adalah yang benar-benar tulus dan ikhlas untuk memberikan bantuan. Bukan yang ada niat yang tertentu," ulaanya.

Lebih lanjut, ia juga menyebutkan penawaran yang diberikan PDTS KBS ada beberapa opsi. Yang pertamaa bapak asuh bisa mendapatkan previlage untuk melihat satwa yang diasuh dan dibantu pakannya. Seperti diberi tiket masuk ke KBS gratis dan juga diberi izin untuk lebih dekat dengan satwanya.

"Keuntungannya aatau penawaran sepetti apa juta juga masih pertimbangkan. Selama itu tidak menyulitkan PDTS KBS saya rasa tidak masalah," ulasnya.

Delapan pihak yang mengajukan ikut program bapak asuh itu dikatakan Choirul terdiri dari berbagai macam kalanngan. Ada yang perorangan ada pula yang komunitas. Ia tidak membatasi siapa saja yang bisa ikut program bapak asuh satwa ini. Asalkan bisa menyejahterakan satwa.

Di sisi lain, Ketua Komisi D DPRD Kota Surabaya Agustin Poliana mengatakan, pihaknya mendukung rencana PDTS KBS untuk menjalankan program bapak asuh satwa ini. Sebab ia sadar bahwa pengeluaran yang cukup besar memang ada untuk pakan satwa.

"Inovasi itu penting dilakukan oleh sebuah perusahaan untuk bisa mengelola keuangannya. Nah termasuk untuk bapak asuh satwa ini, asalkan tidak merugikan KBS ya boleh saja dilakukan," katanya.

Politisi PDIP ini menyebutkan penghasilan KBS selama tahun 2016 lalu mencapai Rp 21 miliar. Untuk operasional masih minus Rp 5 miliar. Namun akhirnya bisa tertutup dengan pendapatan non operasional sekitar 5,5 miliar.

"Tahun 2016 laba KBS deviden hanya Rp 700 juta," ulas Titin.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved