Sambang Kampung
Eksis Produksi Beragam Kerupuk, Warga Jalankan Usaha Turun-Temurun
Li’anah (53), Ketua Kampung Kerupuk mengungkapkan, keahlian membuat kerupuk di kampung itu merupakan keterampilan dari orang tua mereka.
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Parmin
SURYA.co.id | SURABAYA - Perkampungan yang berada di Kelurahan Gunung Anyar Tambak, Kecamatan Gunung Anyar, Surabaya ini, memiliki sejumlah Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang memroduksi kerupuk.
Salah satunya di Jalan Gunung Anyar Tambak RT2 RW1, yang sebagian warganya memasang spanduk penjualan kerupuk di depan rumah.
Li’anah (53), Ketua Kampung Kerupuk mengungkapkan, keahlian membuat kerupuk di kampung itu merupakan keterampilan dari orang tua mereka.
Namun, sejak menjadi usaha binaan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Surabaya pada 2010, dirinya mulai memperbaiki kualitas produk dari bahan hingga kemasan.
“Kami dibina, diajari produksi kerupuk yang baik, yang sehat. Kemudian mengurus surat izin agar bisa dijual di toko,” ujar Li'anah, Kamis (18/5/2017).
Terkait pembuatan kerupuk, ia mengaku sangat paham seluk beluknya. Mulai daging ikan, air dingin atau panas yang digunakan hingga penyimpanan adonan sampai pengeringan.
Kerupuk ikan payus, kerupuk udang dan kerupuk kerang, merupakan andalan yang ditawarkan. Tentu saja, produk kerupuk yang dihasilkan sudah mendapat jaminan sertifikasi halal, tanpa mengandung pengawet maupun bahan berbahaya lainnya.
"Termasuk kelayakan usaha lainnya, sehingga ada jaminan mutu dari produk kerupuk yang dihasilkan.Kami jamin, kerupuk tidak mengandung borax,” tegas wanita ini.
Setidaknya, di kampung ini terdapat 10 UKM yang memroduksi kerupuk seperti dirinya. Hanya saja tidak semua produsen berhasil memasarkan produknya.
Penyebabnya, belum mengurus izin usaha, mengingat produsen didominasi lansia. Sehingga, cukup kesulitan jika harus memasarkan di luar kampung.
"Kalau saya dibantu anak yang memasarkan, saya nggak paham. Tahunya ya banyak yang ambil kerupuk di rumah,” katanya.
Dibantu Anak Muda
Nur Izul Inayah (35), putri Li’anah mengungkapkan, anak muda memang cukup berperan dalam pengelolaan usaha kerupuk di kampungnya. Rata-rata yang mampu memasarkan produknya, dibantu anak muda yang memiliki jaringan luas.
“Kalau pemasaran memang anak-anaknya yang biasanya jalan. Kalau bapak-ibu biasanya cuma bikin, seperti saya kan sudah bisa akses online,” imbuhnya.
Produk kerupuk olahan keluarganya, merek Pamurbaya, sudah bertengger di jajaran produk oleh-oleh di Surabaya. Penjualan online di facebook dan instagram juga kerap dilakukan.
“Untuk menjaga komunikasi antar usaha dengan UKM lain, kami biasanya sharing masalah harga. Jadi, kami tetap komunikasi meski pemasarannya sendiri,” katanya.
Meski tergabung dalam UKM, menurut wanita yang akrab disapa Inay ini, pasokan kerupuk tidak pernah bersama-sama.
Artinya, kendati pesanan banyak, ia tidak mengambil produk produsen lain untuk memenuhinya, semata demi menjaga kualitas.
“Setiap produsen ciri khasnya beda, jadi tidak akan sama rasanya. Semua punya pasar sendiri,” pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/kerupuk-gununganyar_20170519_011214.jpg)