Kamis, 9 April 2026

Berita Surabaya

Mudah Terpancing Hoax, Ibu-ibu Khawatirkan Kesehatan dan Anak

“Hoax pastinya berdampak pada saya, saya kan punya anak. Otomatis ya khawatir kalau ada hoax seperti penculikan anak kemarin.”

Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Parmin
surya/sulvi sofiana
Tutik Handayani (40) (kanan) dan Elok Dian Palupi (38), anggota Dharma wanita kecamatan Tandes yang sering nerima hoax melalui Facebook dan Line, Whatsapp, BBM. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Beragam jenus berita palsu atau hoax kerap memancing kepanikan masyarakat. Bagi Tutik Handayani (40) warga Tandes tidak semua hoax membuatnya khawatir.

Hoax terkait kesehatan dan anak-anak merupakan hal yang paling sering membuatnya khawatir.

“Hoax pastinya berdampak pada saya, saya kan punya anak. Otomatis ya khawatir kalau ada hoax seperti penculikan anak kemarin,” jelasnya, Rabu (26/4/2017).

Hal ini kemudian membuatnya mulai ikut menyebar berita hoax tersebut pada sejunlah teman atau komunitasnya.

Selain itu dirinya juga khawatir jika berkaitan dengan hoax terkait kesehatan.

“Biasanya ya khawatir kalau hoax-nya ada hubungannya sama makanan yang biasa dikonsumsi keluarga. Yang katanya mengandung hal yang berbahaya dan lainnya,” terangnya.

Seiring dengan sebaran yang ia lakukan terhadap berita palsu tersebut, menurutnya ia baru menemukan fakta-fakta terkait berita tersebut.

Melalui perbincangan dan dialog setelah sejumlah teman melakukan kroscek berita .

“Jadinya kadang sering parno dan posesif sama anak biar anak aman. Makanan juga jadi di hatu-hati. Kemudina setelah sering nyebar berita yabg sama dengab yang disebar akhirnya ada obrolan antar teman. Dan jadi tahu kalau berita itu palsu,”jelasnya.

Elok Dian Palupi (38), anggota Dharma wanita Kecamatan Tandes menambahkan hal serupa juga sering ia lakukan.

Untungnya, hoax yang kadang disebar tidak berakibat fatal pada lingkungannya ataupun keluarganya

“Sering nerima hoax melalui facebook dan line ,whatsapp, bbm juga. Ya pasti kepancing kalau masalah anak dan kesehatan. Misalnya masalah makanan kemudian videonya usus keluar ada mie instannya. Sempat terbawa arus sementara,” lanjutnya.

Saat mengetahui hoax penculikan anak, ia juga jadi over protektif. Karena khawatir kadang dirinya tak sengaja ikut menyebar hoax saat mencari kepastian berita.

“Untungnya kalau ibu-ibu di tempat saya paling tertariknya ya gosip gitu, bukan sampai politik dan aliran sesat begitu,” tegasnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved