Ekonomi dan Bisnis

Industri Kosmetik Pilih Garap Pasar Lokal Daripada Ekspansi ke Luar Negeri

Ketatnya persaingan di industri kosmetik bikin Industri lokal memilih untuk mengembangkan pasar lokal dibanding memilih untuk ekspansi ke luar negeri.

Industri Kosmetik Pilih Garap Pasar Lokal Daripada Ekspansi ke Luar Negeri
surabaya.tribunnews.com/Sugiharto
Ilustrasi kosmetik 

SURYA.co.id | SURABAYA - Persaingan industri dan bisnis di produk kosmetik di tahun 2017 ini berlangsung ketat. Industri lokal memilih untuk mengembangkan pasar lokal dibanding memilih untuk ekspansi ke luar negeri.

Yusuf Wiharta, owner dari Viva Cosmetics, mengakui saat ini brand kosmetik dari luar negeri sudah masuk bebas di Indonesia.

"Sementara persaingan dari industri dalam negeri sendiri juga banyak. Termasuk dengam industri kosmetik rumah tangga atau salon. Sehingga kami lebih ekspansif ke pasar lokal diluar jawa yang belum digarap secara maksimal," jelas Yusuf, Selasa (25/4/2017).

Saat ini, PT Vivacarm, perusahaan kosmetik lokal Surabaya, sudah memiliki pasar ekspor di beberapa negara yang memiliki iklim tropis. Namun diakui Yusuf, angka ekspor masih kecil. Karena produk yang mereka buat dan pasarkan memang dikhususkan untuk konsumen di iklim tropis.

"Karena itu pilih maksimalkan pasar domestik. Apalagi banyak aturan dari negara tujuan yang membuat kosmetik Indonesia tidak mudah masuk, serta kondisi pasar ekspor yang memang juga belum membaik," tambah Yusuf.

Viva Cosmetics di tahun 2017 ini mentargetkan pertumbuhan industri sekitar 10 hingga 15 persen. Target itu cukup konservatif, mengingat kondisi konsumsi masyarakat yang banyak tertahan.

"Karena itu kami terus lakukan langkah kegiatan branding lewat kegiatan yang banyak peserta wanita atau berkaitan dengan wanita," tandas Yusuf.

Sementara itu, data dari Kementerian Industri, tercatat ekspor kosmetik Indonesia nilainya pada tahun 2015 mencapai 818 juta dolar Amerika Serikat (AS) atau sekitar Rp 11 triliun. Tahun 2016 lalu ada kenaikan 10 persen. Kinerja ekspor itu lebih besar dibandingkan nilai impor yang sebesar 441 juta dolar AS, sehingga neraca perdagangan produk kosmetik mengalami surplus sekitar 85 persen.

Ketua Kelompok Kerja Industri Padat Karya Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Benny Soetrisno, menambahkan, industri kosmetik merupakan salah satu sektor industri padat karya yang diharapkan dapat menyerap banyak tenaga kerja di Indonesia.

"Tapi saat ini, industri padat karya seperti kosmetik dan jamu ini, masih mengalamo beberapa kendala. Salah satunya masalah regulasi, birokrasi perizinan, wilayah kewenangan yang tidak tepat, banyaknya penyelundupan, maraknya kosmetik ilegal.

"Namun kami yakin, industri sektor ini masih berpeluang untuk menjadi unggulan khususnya di kawasan Asia Tenggara dan menyerap tenaga kerja di Indonesia," kata Benny.

Hingga saat ini diakui bahwa industri padat karya masih diharapkan menjadi tulang punggung negara guna membuka kesempatan kerja bagi masyarakat Indonesia. Dengan meningkatnya jumlah usaha industri di Indonesia, otomatis ikut menurunkan angka kemiskinan yang disebabkan tingginya pengangguran.

Terkait masalah birokrasi perizinan, ucapnya, para pelaku industri jamu dan kosmetik memang mengeluhkan rumitnya aturan yang harus mereka lalui. Salah satunya, aturan mengenai lokasi usaha yang harus berada di kawasan industri padahal usaha mereka bukan sebuah usaha yang baru didirikan.

Kemudian persoalan kewenangan pengelolaan industri kosmetik yang seharusnya berada di bawah Kementerian Perindustrian, tetapi justru di ambil alih Kementerian Kesehatan.

"Sebab Kemenkes akan melihatnya dari sisi apakah produk jamu ini sudah sesuai prosedural pembuatan obat serta apakah sudah memenuhi kaidah sebagai obat atau belum, jadi bukan dari sisi jenis usaha industrinya. Seharusnya Kemenkes cukup membuat standarisasi pembuatan jamu, bukan izin usahanya," tandas Benny.

Penulis: Sri Handi Lestari
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved