Citizen Reporter

Habis Debat Terbitlah Kerabat

apakah karena ibu bekerja menjadikan angka kenakalan remaja melonjak karenanya? tema debat yang mengajarkan anak-anak berbeda namun tak harus terpecah

pixabay
ilustrasi 

Reportase Yosef Infan Chandra
Guru di PJ Global School Malang

PELAJAR SMP kelas tujuh PJ Global School Malang mengadakan pembelajaran kontekstual merayakan Hari Kartini dengan tema Habis Debat Terbitlah Kerabat, meminjam istilah Habis Gelap Terbitlah Terang. 

Pembelajaran konstektual dilakukan dengan metode debat dan bermain itu dilaksanakan 21 April 2017 lalu. Mengingat debat yang dihelat KPU saat pilkada beberapa waktu lalu, pembelajaran dengan metode debat dirasa penting untuk meningkatkan kemampuan analisa pelajar dan belajar mengemukakan opini. Mereka belajar mengenai apa itu debat dan bagaimana cara berdebat.

Berhubung momen Kartini, mereka diajak untuk memperdebatkan mengenai isu meningkatnya perempuan yang berkarier dibarengi dengan meningkatnya kenakalan remaja. Para murid kelas tujuh dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok pro dan kontra.

Kelompok pro diwakili Gerry, Michelle, dan Tanaya mengungkapkan bahwa seorang perempuan atau ibu berkarier itu baik, karena dapat menyejahterakan keluarga dan dapat mencukupi kebutuhan ekonomi anak.

Kelompok pro juga berasumsi bahwa sekolah full day dapat membantu mendidik anak di tengah kesibukan ibu yang berkarier.

Sementara dari kelompok kontra yang diwakili Evo, Aretha, dan Feo mengungkapkan jika ibu berkarier maka pikirannya akan terbelah antara pekerjaan dan mengurus keluarga, sehingga anak menjadi tak terurus optimal, anak yang kurang kasih sayang akan menjadi nakal.

Di kubu pro kembali mengeluarkan pendapat bahwa mengurus anak tetap dapat dilaksanakan, karena sekarang berkarier tak harus meninggalkan rumah.

Perdebatan semakin memanas ketika grup kontra menyanggah pendapat kelompok pro, begitupun sebaliknya, sehingga guru yang berperan sebagai moderator harus menengahi.

Di akhir debat guru menyampaikan konklusi mengenai isu tersebut dan korelasinya dengan hari Kartini.

Setelah debat sengit selesai, untuk mengembalikan kembali kekerabatan kedua kelompok, guru memberikan beberapa permainan. Seperti, permainan duduk saling menumpu yang mengajarkan kerjasama tim untuk saling percaya dan menopang satu dengan yang lain.

Juga permainan Pemimpin Berkata yang melatih konsentrasi kelompok terhadap sebuah instruksi pemimpin. Selain itu mereka juga diajari untuk peka terhadap hati nurani melaui permainan Pasukan Siap.

Melalui kegiatan ini mereka belajar bahwa berdebat tidak boleh merusak hubungan kekerabatan, sebab dalam debat yang dicari adalah apa yang salah bukan siapa yang salah, mencari kebenaran bukan siapa yang merasa benar.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved