Breaking News:

Profil

Hidup Harus Luar Biasa, Kata Sari Kusumahati

Agar menjadi sukses, maka harus merubah paradigma yang selama ini berasal dari kwadran kiri dengan membiasakan dan mengasah kwadran kanan.

Penulis: Achmad Pramudito | Editor: Yuli
a pramudito
Sari Kusumahati, Ketua Apoteker Entrepreneur bidang Spa Surabaya 

SURYA.co.id | SURABAYA - “Hidup pantang untuk hal yang biasa. Hidup harus luar biasa. Hidup juga harus hebat dengan berbagi ilmu kepada sesama.”

Berbekal semangat hidup itulah Sari Kusumahati terus melakukan inovasi dan berbuat sesuatu. Dan supaya hidup jadi tidak biasa, Sari pun gencar membagi ilmunya, khususnya pada teman-temannya sesama ahli farmasi.

Diakui Sari, yang dia lakukan ini bermula dari keprihatinan karena melihat sedikit sekali temannya yang menerjuni bidang entrepreneur. Sebagian besar lulusan farmasi, menurut Sari, lebih suka bekerka ‘di belakang layar’ di bidang pelayanan, seperti di klinik, rumah sakit, atau apotek.

“Padahal, selain pelayanan kefarmasian, masih ada bidang lain yang terbuka untuk jadi lahan usaha, yaitu bidang distribusi dan produksi (pembuatan),” papar Sari kepada SURYA.co.id, Sabtu (22/4/2017).

Di bidang distribusi, lanjut Sari, lulusan farmasi bisa masuk sebagai distributor bahan alam yang belakangan melonjak permintaannya, baik di dalam maupun luar negeri. Lulusan Fakultas Farmasi Universitas Surabaya (Ubaya) ini lalu mencontohkan dirinya yang dipercaya oleh teman bisnisnya dari Malaysia untuk jadi distributor daun kelor.

“Mereka percaya saya karena tahu latar belakang saya sebagai Pharmacist yang dipandang berkompeten dalam pengolahan simplisia,” ungkapnya. Sedang di bidang produksi, yang bisa dilakukan adalah sebagai produsen obat tradisional atau jamu-jamuan, serta makanan dan minuman sehat (healthy food).

“Ironisnya, yang banyak datang ke saya dan konsultasi untuk buka usaha jualan jamu justru dari mereka yang bukan berlatar belakang farmasi. Lalu orang farmasinya kemana?” ucap pemilik sebuah apotek di kawasan Kota Batu ini.

Ibu dua anak ini melihat, kurang berminatnya para sarjana farmasi ini menggeluti bidang entrepreneur karena selama ini mereka terpaku pada ‘penggunaan’ otak kiri dibanding otak kanan.

“Agar menjadi sukses, maka harus merubah paradigma yang selama ini berasal dari kwadran kiri dengan membiasakan dan mengasah kwadran kanan,” imbuhnya.

Sari yang menuangkan gagasannya itu ke dalam buku berjudul ‘Pharmacist Entrepreneur –Menjadi Sukses dan Kaya itu Wajib!’ mengingatkan bahwa kegagalan dalam menjalankan sebuah usaha itu sudah biasa.

“Bagi seorang entrepreneur kegagalan itu biasa terjadi. Yang penting bagaimana bisa ‘move on’. Belajar lah bagaimana untuk bisa bangkit,” pesan Ketua Apoteker Entrepreneur bidang Spa Surabaya ini.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved