Sambang Kampung

Warga Kampung Bundaran Dolog Bertahan di Keramaian Jalan Raya

Kampung Bundaran Dolog ini terpisah dari kampung lainnya. Kampung ini dikitari jalan raya yang selalu riuh 24 jam. Beginilah kehidupan di sana...

Warga Kampung Bundaran Dolog Bertahan di Keramaian Jalan Raya
surabaya.tribunnews.com/Ahmad Zaimul Haq
Suasana di kampung Bundaran Dolog, Surabaya. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Kota Surabaya memiliki satu kampung unik yang bertahan di tengah jalan raya. Kampung itu biasa disebut dengan Kampung Bundaran Dolog.

Sebutan itu melekat lantaran kampung ini dikelilingi oleh Jalan Ahmad Yani. Tepatnya berada di bundaran Dolog di belakang Taman Pelangi.

Meski di sekeliling kampung sudah beralih fungsi sebagai jalan raya dan fasilitas umum berupa taman, kampung seluas 3.892 meter persegi itu masih bertahan hingga sekarang.

Ketua RT 1 RW 3, Jalan Jemur Gayungan 1, Kelurahan Gayungan, Kecamatan Gayungan, Suliyono mengatakan, kampung ini mulanya tidak berada di tengah jalan.

"Dulu kampung RT 1 dan RT 2 yang ada di seberang frontage road sisi barat itu menyatu. Baru saat tahun 1970 kampung ini dipecah, untuk pembuatan jalur Ahmad Yani sisi barat itu," kata Suliyono.

Pria berusia 41 ini menyebut, pembuatan jalan itu membuat kampung mereka menjadi satu koloni sendiri dan terpisah dari kampung lain. Total, saat ini ada 55 KK yang masih bertahan di kampung bundaran dolog ini.

Saat ini, kampung mereka pun sedang was-was dengan perencanaan Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya. Pemkot akan segera merevitalisasi kampung ini menjadi kawasan terintegrasi dengan Taman Pelangi.

"Wacana itu sudah lama kami dengar. Terakhir tahun 2014 ada yang mengukur-ukur kampung kami. Tapi sampai saat ini juga belum ada realisasinya," kaya Suliyono.

Hanya saja, sampai saat ini, sudah ada lima persil yang sudah dibebaskan oleh pemkot untuk dibuat jalan. Rumah mereka dibebaskan untuk pelebaran jalan Bundaran Dolog.

Sedangkan untuk secara keseluruhan, masih belum ada sosialiasi secara langsung pada warga. Mereka hanya mendengar informasi simpang siur saja.

"Sebagian warga ada yang sepakat ada yang menolak. Tapi seharusnya mendukung saja, karena kalau mendapatkan ganti rugi dari pemkot tentu akan lebih banyak, karena sesuai dengan NJOP (nilai jual obyek pajak)," ucap Suliyono.

Toh, hampir semua warga di kampung ini sudah memiliki bukti kepemilikan persil. Meski ada yang bentuknya sertifikat hak milik dan ada pula yang petok D.

Warga di kampung ini pun ada yang penduduk asli dan ada pula yang penduduk musiman. Mereka yang setuju rumahnya dibebaskan dengan harapan nilai pembebasannya bisa lebih besar dibandingkan dijual kepaada orang biasa.

"Kalau NJOP-nya ada dua, ada yang ikut Jalan Ahmad Yani NJOP-nya sekitar Rp 13 juta, ada yang ikut Jalan Jemur Gayungan I NJOP nya Rp 8 jutaan," katanya.

Sembari menunggu kejelasan perencanaan pemkot, Suliyono mengaku lebih baik memotivasi warganya untuk membangun kampung. Sebab, ia harus mengakui bahwa kampung mereka sempat tidak tertata dan kumuh.

Namun, sekarang kampung mungil itu sedang berhias diri untuk diikutkan lomba lingkungan.

"Ini jalan pavingnya kami baru saja melakukan pengecatan, menambah penghijauan dan membersihkan penampilan. Saya maunya membuat rumahnya dicat hijau semua dan menjadi brand kampung hijau, tapi belum ada dana," ujarnya.

Meski kampung itu kini menjadi mungil, ia mengaku warga kampungnya guyup. Suasana kampung juga aman dengan menerapkan sistem one gate (satu jalur).

Harus Tahan Bising

Warga di kampung bundaran Dolog ini mengaku sangat kompak. Setiap minggu sekali selalu ada kerja bakti bersama.

Mereka merasa senasib sepenanggungan dan selalu bekerja sama untuk tetap hidup rukun berdampingan. Namun, hidup di kampung yang ada di tengah jalan raya bukan tanpa tantangan.

Salah satu masalah yang harus mereka ajak kompromi adalah masalah polusi udara dan kebisingan.

"Apalagi sekarang banyak sepeda motor, polusinya memang lebih parah dibandingkan saat saya masih kecil dulu," ucap Sulastri, warga kampug Bundaran Dolog.

Sulastri sudah tinggal di kampung itu sejak 1975. Ia cukup merasakan banyak perubahan di area kampung itu.

Sedangkan masalah kebisingan bersumber dari dua hal. Pertama, deru kendaraan bermotor. Kedua, deru kereta api. Namun, mereka mengaku sudah bisa menyesuaikan diri.

"Menyiasatinya kalau sore kami selalu cangkrukan di depan rumah, menjadikan bising sebagi penghibur saja, sambil ngobrol sore menunggu maghrib," ulasnya.

Lebih lanjut, ia mencetuskan, menyikapi perencanaan pemkot yang akan menggusur kampung mereka, Sulastri ingin segera ada kejelasan dari pemkot.

"Saya inginnya warga segera diberi kepastian, kapan akan dibebaskan, karena kami yang paling terdampak. Kalau digusur tentu kami harus mencari tempat tinggal lain dan itu nggak bisa cepat lho," ulasnya.

Ia berharap bisa mendapatkan nilai pembebasan yang serupa dengan warga yang ada di kawasan frontage road sisi barat.

"Mereka bisa dapat miliaran. Dengan taksiran per meter perseginya sampai Rp 20-an juta. Paling nggak masih bisa belum rumah di Surabaya sini saja," pungkasnya.

Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved