Ekonomi dan Bisnis

Stop Impor Cangkul, Menperin Ajak Petani Gunakan Cangkul Buatan Dalam Negeri

Kemenperin telah menghentikan impor cangkul sejak Desember 2016 lalu. Sebaliknya, mereka mendorong penggunaan cangkul buatan dalam negeri.

Stop Impor Cangkul, Menperin Ajak Petani Gunakan Cangkul Buatan Dalam Negeri
surabaya.tribunnews.com/Irwan Syairwan
Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto (kiri), saat melakukan penyerahan simbolis 50.000 cangkul di acara Sosialisasi Pemenuhan Kebutuhan Bahan Baku dan Alat Perkakas Pertanian Dalam Negeri di Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) Tanggulangin, Senin (17/4/2017), 

SURYA.co.id | SIDOARJO - Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, mengajak masyarakat petani untuk menggunakan perkakas pertanian buatan dalam negeri. Selain harganya yang kompetitif, penggunaan perkakas pertanian buatan dalam negeri akan mendorong perkembangan industri pembuat alat pertanian tersebut.

Saat melakukan penyerahan simbolis 50.000 cangkul di acara Sosialisasi Pemenuhan Kebutuhan Bahan Baku dan Alat Perkakas Pertanian Dalam Negeri di Balai Pengembangan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) Tanggulangin, Senin (17/4/2017), Hartarto mengatakan penggunaan produk dalam negeri memiliki efek pengganda atau multiplier effect  yang sangat menguntungkan berbagai pihak.

"Seperti penggunaan cangkul dari PT Boma Bisma Indra (BBI) Pasuruan ini tak hanya berguna bagi petani, tapi juga mengangkat ekonomi pabrik tersebut beserta karyawannya," kata Hartarto.

Hartarto menuturkan pihaknya menunjuk empat BUMN (PT Krakatau Steel, PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI), PT Sarinah, dan PT BBI), untuk membuat cangkul dalam negeri yang berkualitas. Sebagai awal, pihaknya meminta 50.000 cangkul dari PT BBI.

Hartarto menegaskan cangkul buatan PT BBI ini sangat kuat dan tahan lama.

"Bahan logan yang digunakan merupakan baja karbon jenis SS400 yang sangat kuat. Cangkul ini akan tahan lama," sambungnya.

Hartarto mengungkapkan kebutuhan cangkul bagi industri pertanian, konstruksi, dan lainnya, sangat besar. Setidaknya, dibutuhkan 10 juta cangkul per tahun.

Pihaknya mengklaim dengan adanya produksi cangkul PT BBI yang didukung tiga BUMN lainnya akan mampu menyediakan 14 juta cangkul per tahun.

"Harganya sangat kompetitif di kisaran Rp 24.540 hingga Rp 30.540. Ini tentu akan mengurangi beban biaya para petani. Yang paling penting akan mengalahkan cangkul dari China, baik dari segi harga maupun kualitas," ujarnya.

Hartarto menyatakan pihaknya telah menyetop impor cangkul pada 31 Desember 2016 silam. Hal ini agar industri perkakas pertanian dalam negeri terlindungi dan tetap berproduksi.

Dirut PT BBI, Rahman Sadikin, menambahkan dalam waktu dekat pihaknya akan mampu memproduksi 100.000 cangkul per bulan. Cangkul tersebut dibuat 75 persen (tanpa gagang).

"Untuk pemasangan gagangnya, nanti PT PpI dan PT Sarinah akan menyalurkan ke IKM-IKM. Ini yang akan menggerakan rantai produksi alat pertanian Indonesia nantinya," imbuh Rahman.

Rahman mengklaim pada akhir 2017 nanti pihaknya akan menghasilkan total 1 juta cangkul untuk didistribusikan ke pasar dalam negeri.

"Belum berpikir ekspor dulu, karena pasar dalam negeri pun masih perlu," ujarnya.

Penulis: Irwan Syairwan
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved