Berita Ekonomi Bisnis
Jatim Kontribusi Tertinggi Industri Nasional, Terbesar dari Sektor ini
Airlangga menyebutkan kementerian juga telah memberikan kebijakan nasional sektor industri yang juga masuk ke wilayah Jatim.
Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Parmin
SURYA.co.id | SURABAYA - Menteri Perindustrian Airlangga Hartanti menyebutkan kontribusi industri dari Jawa Timur (Jatim) tertinggi secara nasional.
Mencapai 28,8 persen. Hal ini terutama di industri pengolahan bahan baku.
"Antara lain industri makanan minuman, pengolahan tembakau, pengolahan kayu dan yang kementerian sedang fokus adalah peningkatan industri kulit di Tanggulangin, Sidoarjo," kata Airlangga saat tampil dalam workshop Pendalaman Kebijakan Industri untuk Wartawan di Surabaya, Senin (17/4/2017).
Lebih lanjut, Airlangga menyebutkan kementerian juga telah memberikan kebijakan nasional sektor industri yang juga masuk ke wilayah Jatim.
Ada enam langkah yang disiapkan untuk mendorong industri mengalami kemajuan.
Pertama, pembangunan tenaga kerja industri melalui penguatan vokasi industri.
Dalam waktu dekat, Kemenperin akan meluncurkan kembali program pendidikan vokasi industri untuk wilayah Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, setelah sukses diluncurkan di wilayah Jawa Timur akhir Februari lalu.
“Ditargetkan, tahap kedua ini akan dilakukan kerja sama antara 368 SMK dengan 108 industri. Secara bertahap nanti juga dilakukan di Provinsi Jawa Barat, DKI Jakarta, Banten, dan Sumatera Utara pada tahun ini,” imbuhnya.
Kebijakan kedua, yakni pendalaman struktur industri melalui hilirisasi sektor kimia tekstil dan aneka, agro, serta logam, mesin, alat transportasi, dan elektronika.
“Rencana investasi sampai tahun 2020 dari sektor-sektor tersebut mencakup 97 proyek dengan nilai sebesar Rp567,31 triliun dan diperkirakan menyerap tenaga kerja sebanyak 555.528 orang baik tenaga kerja langsung maupun tidak langsung,” ungkap Airlangga.
Ketiga, Kemenperin tengah memacu pengembangan sektor padat karya berorientasi ekspor, antara lain industri alas kaki, industri tekstil dan produk tekstil, industri makanan dan minuman, industri furniture kayu dan rotan, serta industri kreatif.
“Amunisi untuk memacu sektor-sektor tersebut, salah satunya dengan memberikan insentif fiskal berupa pemotongan pajak penghasilan yang digunakan untuk reinvestasi,” tegasnya.
Kemudian, kebijakan keempat, pengembangan industri kecil dan menengah (IKM) dengan platform digital yang terintegrasi melalui program e-smart IKM.
“Program ini merupakan suatu sistem database IKM yang tersaji dalam profil industri, sentra dan produk yang diintegrasikan dengan marketplace yang telah ada dan didukung oleh sistem data base SIINAS,” jelas Airlangga.
Program ini juga diharapkan dapat membantu para pelaku IKM dalam melakukan promosi dan meningkatkan penjualan produk baik dalam maupun luar negeri.
Menperin menyampaikan, kebijakan kelima adalah pengembangan industri berbasis sumber daya alam.
Misalnya, upaya ini telah terimplementasi di Kawasan Industri Morowali, Sulawesi Tengah dan Kawasan Industri Konawe, Sulawesi Tenggara yang menjadi pusat pengembangan industri smelter berbasis nikel.
“Dengan tujuan meningkatkan nilai tambah bahan baku mineral di dalam negeri, Morowali mampu memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi daerah sebesar 60 persen, sedangkan untuk Konawe 15 persen,” paparnya.
Keenam, pengembangan kawasan industri. Kemenperin mencatat, hingga akhir tahun 2016, tiga kawasan industri yang sudah beroperasi adalah di Sei Mangkei, Morowali, dan Bantaeng.
Untuk tiga tahun ke depan, juga akan dipercepat pembangunan kawasan industri Tanjung Buton, Dumai, Berau (Kaltim),Tanah Kuning (Kaltara), JIIPE (Gresik), Kendal, dan Kawasan Industri Terpadu Wilmar (Serang, Banten) yang telah diusulkan dalam revisi Perpres Nomor 3 tahun 2016 tentang percepatan pelaksanaan Proyek Strategis Nasional.
Melalui enam kebijakan prioritas tersebut, Menperin optimistis industri pengolahan non-migas diproyeksikan tumbuh di kisaran 5,2-5,4 persen dengan target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,1-5,4 persen pada tahun 2017.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jatim, Mohamad Ardi Prasetyawan, mengakui kontribusi industri di Jatim terbesar nasional.
"Antara lain industri makanan dan minuman (mamin) sebagai sektor terbesar, kemudian sektor pengolahan tembakau dan industri pengolahan kayu," jelas Ardi saat mendampingi Airlangga.
Kemudian sektor industri kimia dan farmasi dengan sumbangan, industri pengolahan laonnya serta sektor industri kertas.
Di tahun 2017 ini, tidak hanya industri besar yang mendapatkan manfaat pengembangan dari Kementerian maupun dari Disperindag Jatim.
Keduanya berharap ada peningkatan dari sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).
"Beberapa langkah sudah kami siapkan untuk meningkatkan kinerja sektor industri, diantaranya dengan mendorong adanya pembiayaan murah untuk sektor UMKM.
"Salah satunya memberikan bunga kredit dibawah 10 persen. Juga fasilitas lainnya, seperti pameran dan mempertemukan produsen dengan buyers," tambah Ardi.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/sidak-mamin-stubondo_20150713_150722.jpg)