Sabtu, 11 April 2026

Persona

Dewita Hayu Shinta, Lulusan Pertanian yang Ahli Hukum dan Peduli Perempuan

Komisioner KPU Jatim yang satu ini benar-benar kaya pengalaman. Seperti apa? Simak kisah dari Dewita Hayu Shinta ini...

Surabaya.tribunnews.com/Bobby Constantine Koloway
Komisioner KPU Jatim, Dewita Hayu Shinta. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Dewita Hayu Shinta menjadi satu-satunya perempuan dari lima komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Jatim.

Menjabat kepala Divisi Umum Keuangan dan Logistik KPU Provinsi Jawa Timur, perempuan yang akrab dipanggil Shinta ini ternyata kaya akan latar belakang yang "kontras".

Shinta adalah lulusan program studi Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang (UB). Usai meraih gelar sarjana pada tahun 2005, Shinta melanjutkan ke tingkat Magister di Universitas Indonesia (UI).

Menariknya berbeda dengan program sarjananya, di jenjang S2 tersebut ia mendapat gelar Magister Manajemen Pembangunan Sosial dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI.

Tak hanya soal latar belakang pendidikan yang berbeda, Shinta juga aktif dalam berbagai wadah organisasi. Baik organisasi di internal kampus maupun eksternal. Di antaranya dengan masuk di jajaran pengurus BEM Fakultas.

"waktu kuliah, saya juga sering ikut demo," ujarnya kepada Surya ketika ditemui di kantornya.

Kecintaanya terhadap isu kemanusiaan, juga mengantarkanya untuk masuk di berbagai organisasi peduli masyarakat. Mulai dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Asosiasi Perempuan Indonesia Untuk Keadilan (APIK), Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) wilayah Jatim, maupun menjadi anggota korps HMI-Wati (Kohati).

Meskipun tak memiliki latar belakang keilmuan hukum, Shinta memiliki sederet pengalaman berkegiatan bersama aktifis internasional di bidang penegakan hukum.

Di antaranya Program penanganan dan pencegahan traficking di Malang Selatan sebagai Community Organiser yang merupakan kerja sama KPI dengan Terre des Homes (TdH) Netherland (2004-2005). Kemudian, program Advokasi Pornography Bill sebagai PO dari LBH APIK Jakarta bekerjasama dengan Democratic Reform Support Program (DRSP)–USAid, serta beberapa kegiatan internasional lainnya.

Shinta menagatakan bahwa banyaknya pengalaman yang pernah ia lakukan ini didasarkan pada hobinya yang menyukai tantangan. Termasuk, saat dipercaya menjadi komisioner KPU Jatim sejak 2014 silam.

"Saya memang suka dengan tantangan dan isu kemanusiaan," ujar perempuan yang juga pernah menjadi tenaga ahli DPR RI ini.

Lalu, dengan kiprahnya di KPU saat ini, apa tantangan terbesarnya? "Sekarang saya dipercaya untuk mengelola keuangan hajatan pemilu di jatim. Jumlah (uang) serta tanggungjawabnya lebih besar," kata Shinta.

Meskipun demikian, ini bukan kali pertama ia mengurus keuangan hingga membuat laporan.

"Dulu saya pernah mengelola keuangan untuk event nasional yang jumlahnya sekitar 800 sekian juta rupiah. Termasuk berhubungan dengan badan audit keuangan. Sekarang, lingkupnya lebih sempit, tapi yang uang yang dikelola 800 sekian miliar. Berkali-kali lipat. Apalagi yang mengaudit keuangan kan langsung BPK nasional. Nah di situlah tantangannya," pungkas penulis buku Posisi Perempuan dalam RUU KUHP (2006) dan Kodifikasi Delik Kekerasan dalam Rumah Tangga dalam Revisi KUHP (2007) ini. 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved