Sambang Kampung
Kampung Ngagel Rejo: Bangun Kampung Wifi Cegah Anak ke Warnet
“Kami memasang router sebanyak 4 buah yang disebar di RT 15. Setiap warga kita beri password untuk akses wifi,” ulas Ketua RW 4 Rudi Hartono.
Penulis: Fatimatuz Zahro | Editor: Parmin
SURYA.CO.ID | SURABAYA – Warga kampung gang Balantara RT 15 RW 4 Kelurahan Ngagel Rejo Kecamatan Wonokromo punya cara tersendiri untuk melindungi anak-anak di era majunya teknologi. Salah satu kampung unggulan Kota Surabaya ini sengaja membangun kampung wifi demi mencegah anak-anak mereka pergi ke warung internet (warnet).
Warga kampung ini tidak menganggap enteng anak-anak yang suka pergi ke warnet. Warga sepakat seringnya anak-anak menghabiskan waktu di warnet meningkatkan resiko kenakalan remaja. Mulai kecanduan game online sampai kecanduan pornografi.
Itulah sebabnya, mereka menyediakan fasilitas jaringan internet melalui wifi di setiap penjuru kampung.
“Kami memasang router sebanyak 4 buah yang disebar di RT 15. Setiap warga kita beri password untuk akses wifi,” ulas Ketua RW 4 Rudi Hartono. Dengan empat unit router itu, bisa menjangkau rumah 60 KK warga RT 15.
Menurut Rudi yang juga mantan Ketua RT 15 ini, anak-anak biasanya pamit ke warnet dengan alasan mengerjakan tugas. Kalau sudah dimintai ijin begitu orang tua tidak bisa mengelak dan akan memberikan ijin. Namun orang tua kesulitan memantau dan mengawasi apa saja yang dilakukan anak di bilik warnet.
“Kalau dengan wifi ini anak tidak perlu ke warnet dan orang tua bisa memantau, mau pakai komputer atau pakai gadget kan orang tua bisa lihat historinya,” ucap Rufi.
Sejauh ini penyedian akses internet dianggap solusi paling tepat. Komputer pun disediakan di tengah kampung, tepatnya di ruang baca RT 15 bagi anak-anak yang tidak punya komputer. Sehingga asalan anak untuk pergi ke warnet sudah tidak bisa dilakukan.
Terlebih orang tua juga bisa melakukan proteksi untuk situs-situs apa saja yang bisa diakses lewat gadget mereka. Jadi meski penggunaan jaringan internet dibebaskan penggunaannya, namun situs-situs yang dikunjungi bisa dibatasi.
“Untuk biaya, kita urunan. Warga per bulan membayar Rp 20 ribu untuk setiap KK. Dari uang itu kita belikan langganan pulsa internet. Warga senang karena nggak perlu beli paket data, kalau di kampung pakai jaringan wifi sudah cukup,” tandas pria yang sehari-harinya membuka usaha sablon ini.
Selain menerapkan larangan pergi ke warnet, kampung unggulan satu ini juga tegas menerapkan kampung wajib belajar. Setiap weekday, mereka melarang anak-anak untuk keluar rumah pada jam 18.00 WIB sampai pukul 20.00 WIB.
Pada jam itu setiap anak harus berada di dalam rumah dan harus belajar. Jika ada yang masih keluyuran dan bermain di luar rumah akan ditegur.
“Yang menegur nggak hanya orang tua anak saja, tapi juga para tetangga yang tau anak sedang mainan,” ujar sekretaris RT 15, Retno Handayani.
Menciptakan kampung yang peduli pada jam belajar anak ini adalah komitmen warga setempat. Seluruh warga di kampung dengan lebar jalan hanya 2,5 meter ini ingin agar-anaknya bisa berprestasi di sekolah. Sehingga harus dibangun lingkungan yang mendorong anak untuk semangat belajar.
“Di tengah kampung Rt 15 ini juga ada perpustaan kecuil atau ruang baca. Di sana ada beberapa buku pelajaran yang menunjang anak untuk semangat membaca,” ujar Retno.
Setiap sore atau malam akhir pekan ruang baca itu ramai dikunjungi anak-anak. Mereka memanfaatkan ruang baca untuk menambah pengertahuan.
Tapi bukunya belum banyak, kami mengajukan ke Perpustakaan kota Surabaya namun masih belum datang,” pungkasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/warga-di-kampung-itu-memasang-wifi_20170413_233539.jpg)