Berita Kampus Surabaya
FK Unair Gandeng Profesor Asal Jerman untuk Genjot Publikasi
Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga mendatangkan profesor dari Jerman untuk mendorong peningkatan jumlah publikasi internasional.
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Eben Haezer Panca
SURYA.co.id | SURABAYA - Target peningkatan publikasi internasional Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair) membuat program visiting professor kian digalakkan.
Kali ini program visiting professor mendatangkan Cristianto B Lumenta, spesialis bedah syaraf yang lama menetap di Jeman.
Dekan FK Unair, Prof Soetojo mengungkapkan, prof Lumenta diberikan penghargaan sebagai Honorary Profesor dalam kunjungannya ke Unair kali ini.
Menurutnya, prof Lumenta telah banyak membantu mengarahkan dosen dalam menerbitkan jurnal Internasional.
“Tahun 2004 prof Luminta sudah pernah mengisi di Unair, kemudian ditindaklanjuti dengan mengirim residen ke Jerman selama beberapa bulan. Tetapi sudah lama kerjasama tak terjalin lagi,” lanjutnya usai pemberian penghargaan Honorary Profesor di Aula FK Unair, Kamis (13/4/2017).
“Kepawaian Prof Luminta dalam memakai bahasa Indonesia juga memudahkan komunikasi. Prof Luminta akan membimbing dan mengarahkan dosen kami dalam menerbitkan publikasi internasional. Saat ini FK baru menerbitkan 20 jurnal internasional, 18 diantaranya terindeks scopus. Padahal target tahun ini 162 publikasi,” ungkapnya.
Dengan pengarahan dari pria yang juga penguji bedah syaraf di Eropa, maka akan memudahkan publikasi untuk diterbitkan di skala Internasional.
Ia pun mentarget akan adanya 1 publikasi dari 1 departemen untuk mengejar target yang ada.
“Dosen kami 150 orang dan 30 persen lebih merupakan doktor yang punya kewajiban publikasi. Mahasiswa S1 dan S2 juga ditarget untuk publikasi jurnal. Jadi pembimbing lebih aktif lagi,”pungkasnya.
Prof Luminta mengungkapkan, Unair memiliki cukup banyak tenaga untuk membuat publikasi. Namun, menurutnya dosen harus lebih fokus meneliti jika memang ingin menerbitkan publikasi internasional.
“Yang bisa lolos publikasi Internasional itu harus publikasi hasil eksperimen, bukan hanya data statistik. Ini (data statistik) cuma level rendahan, yang level tinggi itu hasil eksperimen yang terbaru. Apalagi kalau ada uji coba binatang, soalnya memang jarang. Jadi berdasarkan sains,”paparnya.
