Berita Seminar
Minuman Suplemen dan Zat Perwarna Faktor Perusak Ginjal, begini Kata Dokter Pranawa Sp PD KGH
Di Indonesia, hipertensi 40 persen menjadi penyebab gagal ginjal. BP POM tetap akan mengeluarkan peringatan kandungan zat pewarna atau zat lain.
Penulis: Sulvi Sofiana | Editor: Parmin
SURYA.co.id | SURABAYA - Fenomena transplantasi ginjal di Surabaya kini semakin jarang dilakukan. Padahal teknik penanganan untuk penyakit ginjal kronis ini sudah ada sejak 1988. Tenaga medis pun terus berkembang dengan teknik tranplantasi baru.
Transplantasi dilakukan pada penyakit ginjal kronis atau stadium 5. Transplantasi harus dilakukan ketika cuci darah tidak bisa lagi diterapkan.
Dokter Pranawa Sp PD KGH, mantan kepala instalasi dealisis RSU dr Soetomo menjelaskan hipertensi dan diabetus melitus adalah dua penyakit yang paling sering merusak ginjal.
Konsumsi obat hipertensi dan diabetus melitus sepanjang hidup tidak merusak ginjal. Di Indonesia, hipertensi 40 persen menjadi penyebab gagal ginjal.
“Minuman suplemen dan zat pewarna menjadi faktor kerusakan ginjal, tetapi BP POM tetap akan mengeluarkan peringatan kandungan zat pewarna atau zat lain,” jelas pria yang juga Koordinator Nefrologi Indonesia Wilayah Jatim ini di sela seminar The New Paradigm for Kidney Transplantation and Hemodialysis, di Gedung FK Unair, Kamis (6/4/2017).
Dia berharap, muncul kesadaran masyarakat untuk mendonorkan ginjalnya, dan atau ahli waris orang yang meninggal menyetujui pengambilan organ ginjal untuk transplan.
"Transplantasi ginjal pertama dilakukan di Surabaya tahun 1988. Kasus pertama pada 1988. Hanya saja tidak banyak transplantasi yang bisa kami lakukan. Ini karena terbatasnya donor transplantasi ginjal. Kalau masalah teknis dan biaya bisa dikejar. Terlebih BPJS menanggung transplantasi ginjal hingga Rp300 juta," tuturnya.
Di Saudi Arabia yang notabene negara Islam, kata Pranawa, kebutuhan transplantasi per tahun mencapai 500. Dari jumlah itu ada transplantasi hidup dan jenazah.
"Sampai sekarang di Surabaya sejak 1988 baru melakukan 42 transplantasi. Surabaya kalah jumlah dibanding Rumah Sakit (RS) di Jakarta yang sudah melakukan lebih dari 50 transplantasi. Meski demikian di Surabaya lebih kaya kasus. Ada anak donor ke ibu, ibu donor ke anak dan lainnya," katanya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/dr-pranawa_20170406_212157.jpg)