Seleb

Begini Kesan Wulan Guritno Tidur di Kamar Seharga Rp 60 Juta Semalam

Wulan Guritno menceritakan pengalamannya saat tidur di kamar hotel seharga Rp 60 juta semalam. Begini katanya...

Penulis: Achmad Pramudito | Editor: Eben Haezer Panca
surabaya.tribunnews.com/Achmad Pramudito
Amelia Salim (tiga dari kiri), salah satu pendukung film Perfect Dream foto bareng sosialita Surabaya sebelum nonton bareng di CGV Marvel City Surabaya, Kamis (30/3). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Setelah menggelar pesta di Ciputra World Surabaya, para sosialita kembali menarik perhatian massa.

Kali ini limousine Hummer sepanjang 9 meter warna hitam yang membawa Ferry Salim dan Wulan Guritno itu merapat di area Midtown Hotel di Marvell City Surabaya, Kamis (30/3/2017). 

Selain Ferry Salim dan Wulan Guritno ada pula wajah yang sudah tak asing, yaitu Amelia Salim dan Uci Flowdea. Setelah istirahat sejenak di lobi Midtown Hotel, para artis dan sosialita ini kemudian menemui pengunjung Marvell City Surabaya di area pintu masuk sisi timur.

Mereka melangkah di atas karpet merah sepanjang 20 meter diiringi aplaus pengunjung pusat perbelanjaan tersebut.

“Ini film yang total digarap di Surabaya, jadi sebagai warga Surabaya wajib tonton,” begitu ajak Amelia Salim.

Ditemui sebelum melenggang di red carpet, Wulan Guritno mengaku banyak melihat sudut-sudut Surabaya selama syuting film Perfect Dream.

“Salah satunya, yang nggak akan terlupakan adalah ketika tinggal di Hotel Majapahit,” ungkapnya.

Kamar yang ditempati saat syuting film garapan sutradara Hestu Saputra ini adalah jenis President Suit yang tarifnya Rp 60 juta/semalam.

“Kalau ditanya apa mau lain kali inap dengan biaya sendiri di kamar itu, jawabnya pasti ‘nggak lah’, gila mahal banget!” serunya.

Wulan tak bisa menutup rasa bahagia dan bangga bisa dapat kesempatan menempati kamar mewah tersebut. “Kalau nggak syuting di Surabaya nggak bakal bisa tinggal di kamar glam seperti itu,” imbuhnya.

Para pendukung film Perfect Dream mengaku senang film yang mengangkat kehidupan mafia di Surabaya itu akhirnya tayang setelah sempat molor dari waktu semula yang dijadwalkan bulan Januari 2017. Kebanggaan yang dirasakan oleh seluruh kru adalah film itu tayang persis di Hari Film Nasional yang jatuh pada tanggal 30 Maret.

“Saat ini memang sudah makin banyak gedung bioskop, tapi masih kurang. Sebab penyebarannya tidak merata,” ungkap Hestu Saputra.

Tumbuhnya gedung bioskop itu diyakini Hestu Saputra sebagai bentuk meningkatnya kepercayaan masyarakat pada film nasional.

“Cuma memang seleranya masih monoton. Yang disukai masyarakat masih jenis film yang itu-itu saja, belum bervariasi,” bebernya.

Mengenai selera masyarakat penikmat film ini, Wulan tak menepis perlunya edukasi pada masyarakat secara terus menerus.

“Kami bersyukur sudah ada apresiasi dari masyarakat, tetapi perlu ada edukasi sehingga selera penonton bisa beragam,” katanya. 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved