Profil

Intan Manullang : Kecewa Tak Ada Tarif Murah

“Memang kasihan juga hadirnya taksi online ini membuat taksi regular jadi tak laku.”

Penulis: Achmad Pramudito | Editor: Parmin
surya/ahmad pramudito
Intan Manullang 

SURYA.co.id | SURABAYA - Keputusan pemerintah membatasi ruang gerak taksi online membuat kecewa konsumen yang selama ini merasa diuntungkan oleh tarif murah taksi non-plat kuning tersebut.

Intan Manullang salah satu konsumen berharap keputusan pemerintah seharusnya tetap berpihak pada konsumen.

“Sebab selama ini masyarakat sangat memerlukan moda transportasi yang murah untuk sampai tujuan,” tegas perempuan kelahiran Surabaya, 7 Juni 1990 ini.

Intan lalu memberi contoh,”Perjalanan dari rumah di Gubeng sampai hotel kalau naik taksi online habisnya hanya belasan ribu. Tapi, kalau naik taksi biasa bisa sampai Rp 30 ribu – Rp 40 ribuan. Belum lagi kalau pas macet.”

Bagi seorang karyawan, lanjut Intan, selisih yang cukup besar itu sangat terasa.

“Karena itu bisa dipahami jika taksi online ini sangat laris karena memang sangat murah,” imbuh Marketing Communications Best Western Papilio Hotel Surabaya ini.

Meski begitu, lulusan Psikologi Universitas Airlangga Surabaya ini memahami bahwa kebijakan menghapus tarif murah taksi online ini untuk melindungi eksistensi taksi regular (plat kuning).

“Memang kasihan juga hadirnya taksi online ini membuat taksi regular jadi tak laku,” cetusnya.

Intan berharap kebijakan baru pemerintah bisa melindungi kedua belah pihak.

“Sebaiknya bagaimana caranya taksi reguler tetap bisa eksis, tapi kebijakan baru tidak merugikan keberadaan taksi online juga,” tegas Intan.

Intan menyoroti pula keberadaan angkutan umum (angkutan kota/angkot) yang juga terimbas oleh eksistensi taksi online maupun go-jek.

“Sebaiknya kondisi ini dibuat pelajaran semuanya. Kenapa masyarakat pilih angkutan yang berbasis online dan tidak lagi menggunakan angkutan umum,” ucapnya.

Menurut dia, masyarakat sering kecewa atas layanan angkot yang sering ngetem di sembarang tempat tanpa mengindahkan kepentingan penumpangnya yang kemungkinan sedang terburu-buru untuk sampai di satu tempat.

“Kalau ngetem lama gitu kan yang rugi penumpang yang ingin buru-buru sampai ke sekolah atau kantor,” tandasnya.

Diakui Intan, tarif angkot ini termasuk murah sehingga terjangkau oleh kelompok masyarakat kelas menengah bawah, khususnya kalangan pelajar.

“Tapi, kalau kemudian ketemu sopir angkot yang suka ngetem lama dan jadi terlambat ke kantor, ya risiko penumpang,” tuturnya.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved