Berita Surabaya

Kekhawatiran Pemilik Persil Tanpa IMB Terkait Frontage Road di Wonokromo

Warga Surabaya yang terdampak pembebasan lahan untuk frontage road sisi barat di Jalan Wonokromo merasa khawatir.

Kekhawatiran Pemilik Persil Tanpa IMB Terkait Frontage Road di Wonokromo
surya/ahmad zaimul haq
Penghuni bangunan bercat hijau sepanjang Jalan Wonokromo ini harus merelakan digusur untuk kepentingan frontage road sisi barat. 

SURYA.co.id | SURABAYA – Warga Surabaya yang terdampak pembebasan lahan untuk frontage road sisi barat di Jalan Wonokromo sempat khawatir bahwa persil mereka yang tidak memiliki IMB, tidak akan dibebaskan oleh pemkot.

Namun dengan alasan mengebut pengerjaan pelebaran jalan, seluruh persil meski tak ber-IMB dan bentuknya e-gendom akan tetap dibeli oleh pemerintah Kota Surabaya.

Saudah, salah satu warga Wonokromo yang sempat khawatir jika persilnya akan mendapatkan harga rendah lantaran tidak punya IMB.

“Rumah saya seluas 84 meter persegi tidak ada IMB-nya. Saya khawatir kalau dibeli dengan harga rendah nggak akan bisa dipakai untuk rumah baru. Padahal saya nggak punya tempat tinggal lain lagi,” ucap Saudah.

Hal senada juga disampaikan oleh Fredrik, anak pemilik persil rumah yang dipakai untuk toko Emasi Jalan Wonokromo. Ia mengaku bentuk kepemilikan lahannya bukan sertifikat dari BPN melainkan hanya bukti transaksi e-gendom.

“Punya saya hanya sedikit yang kena, menyisikan panjang 6 meter kali tiga meter. Tapi bentuknya e-gendom, pembeliannya dulu masih surat jaman Belanda,” ucap Fredrik.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Bina Marga dan Pematusan (DPUBMP) Kota Surabaya Erna Purnawati mengatakan, seluruh tanah di sana yang kena rencana jalan akan dibebaskan. Baik bentuk surat e-gendom, petok D, ataupun sertifikat.

“Yang punya e-gendom tidak masalah, nanti akan dibantu oleh lurah untuk pengurusan riwayat tanahnya. Begitu juga tanahnya yang nggak ada IMB nya juga akan kita beli. Yang penting warga sudah tanda tangan untuk mau dibebaskan sama pemkot akan langsung kita proses,” ucap Erna pada Surya, Sabtu (18/3/2017).

Wanita lulusan Teknik Lingkungan ITS ini menyebutkan, total persil yang akan dibebaskan ada sebanyak 35 persil. Delapan diantaranya adalah tanah negara dari PT KAI dan juga PDAM Surya Sembada.

“Jika sudah setuju, maka kita akan ajukan ke pemerintah provinsi untuk diajukan peta bidangnya. Baru setelah itu keluar untuk nilai appreisal berdasarkan bukti kepemilikan tanahnya,” ucap Erna.

Halaman
12
Penulis: Fatimatuz Zahro
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved