Profil
Eunike Martini: Mudahkan Konsumen
Alasan utamanya, minimarket ini sering beroperasi hingga 24 jam sehingga memudahkan bila memerlukan sesuatu yang mendesak.
Penulis: Achmad Pramudito | Editor: Parmin
SURYA.co.id | SURABAYA - Maraknya pasar swalayan hingga ke pelosok kota di Surabaya disambut positif para ibu rumah tangga.
Alasan utamanya, minimarket ini sering beroperasi hingga 24 jam sehingga memudahkan bila memerlukan sesuatu yang mendesak di malam hari atau bahkan dini hari.
“Kalau warung pracangan kan malam habis Magrib atau bahkan sore sudah tutup,” kata Eunike Martini, Kamis (16/3/2017).
Minimarket atau pasar swalayan yang menjamur ini juga sering membantu masyarakat yang sedang dalam perjalanan jauh.
“Ketika dalam perjalanan membutuhkan sesuatu bisa dengan mudah mendapatkan barang yang diinginkan. Karena biasanya swalayan ini letaknya di pinggir jalan besar yang banyak dilalui orang,” tuturnya.
Apalagi, lanjut ibu tiga anak ini, pasar swalayan ini sering menggelar diskon untuk barang tertentu.
“Ibu-ibu kan sukanya barang diskon, jadi pasti selalu mengincar setiap ada info diskon di sana. Kalau warung pracangan mana ada barang diskon,” paparnya sambil tertawa.
Meski diakui, keberadaan pasar swalayan ini makin menggenjet keberadaan warung-warung tradisional yang biasanya menempati area depan rumah sang pedagang. Karena itu, jika tidak terlalu penting dan barangnya ada di warung pracangan, wanita yang akrab disapa Nes ini lebih pilih beli di warung pracangan.
“Kalau tahu barang yang aku cari di pracangan ada, ya mending ke warung pracangan aja. Karena harga di warung pracangan ini kan nggak ada pajaknya,” ucap anak ketiga dari lima bersaudara ini.
Penggemar traveling dan masak-memasak ini lalu menjabarkan pula bahwa dirinya sering membanding-bandingkan harga barang di warung pracangan dan pasar swalayan.
“Sudah aku buktikan barang di swalayan kecil lebih mahal dari pracangan,” ungkapnya.
Menurut perempuan kelahiran Surabaya, 28 Maret 1979 ini, kelemahan lain warung pracangan adalah jenis barang yang sangat terbatas.
“Dengan perbandingan harga tadi, kalau misal barang di pracangan lebih banyak pasti nggak akan ketinggalan konsumen kok,” cetus wanita yang gemar menyantap sate gule kambing ini.
Selain melengkapi jenis barang, lanjut Nes, warung pracangan juga harus berbenah diri agar bisa menarik perhatian konsumen secara rutin.
“Kualitas barang harus dijaga. Jangan sampai yang sudah usang dan tidak layak konsumsi ikut dijual,” begitu pesannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/profil-eunike-martini_20170316_233236.jpg)