Sambang Kampung

Tenggilis Kampung Tempe: Kualitasnya Terganggu Produsen Tempe Pendatang

Nurhasan, salah satu produsen tempe asli Tenggilis menuturkan jumlah produsen tempe dari luar kota mencapai ratusan orang.

Tenggilis Kampung Tempe: Kualitasnya Terganggu Produsen Tempe Pendatang
surya/habibur rohman
KEMASAN KECIL - Perajin tempe Madekan menunjukkan tempe kemasan di Kampung Tempe Tenggilis Mulya Surabaya, Jumat (10/3/2017). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Nama besar Tenggilis sebagai produsen tempe ternyata memancing eksodus warga dari kota lain untuk membuat usaha serupa di daerah ini. Sayangnya, hal tersebut tak dibarengi dengan jaminan mutu.

Nurhasan, salah satu produsen tempe asli Tenggilis menuturkan jumlah produsen tempe dari luar kota mencapai ratusan orang.

"Ada kalau sekitar seratus orang," ujarnya.

Para produsen pendatang ini tersebar di beberapa tempat kos hingga kontrakan di beberapa lokasi di Tenggilis.

Biasanya, tak jauh dari sungai di sekitar Tenggilis Kauman.

Dengan air sungai di sekitar huniannya inilah kedelai bahan tempe dicuci.

Ada yang lansung mencuci di sungai, ada pula yang menggunakan pompa yang tersambung pipa air.

"Kalau pada masa saya kecil, mungkin boleh saja mencuci di sungai. Sebab, airnya masih bening. Tapi, kalau sekarang kan sudah tercemar berbagai limbah, sampai limbah kimia. Airnya saja warnanya hitam. Saya saja sudah tak pakai air sungai sejak puluhan tahun lalu," jelas pria yang akrab dipanggil Nur ini.

Jelas hal tersebut mempengaruhi produk tempenya. Kalau tempe produk buatannya bisa dimasak ketika busuk (disebut tempe "bosok"), sedangkan untuk produsen lain tidak.

"Kalau buatan mereka (pendatang) akan ada hewannya (mikroorganisme) waktu busuk," jelasnya.

Halaman
12
Penulis: Bobby Constantine Koloway
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved