Senin, 27 April 2026

Sambang Kampung Lontong Kupang Krajan

Biaya Bikin Lontong Kian Mahal *'Kampung Lontong' Datangkan Daun dari Malang

Kampung yang satu ini, di Surabaya dikenal sebagai Kampung Lontong. Seperti apa kampungnya? Simak di sini --->

Penulis: Fatimatuz Zahro | Editor: Eben Haezer Panca
surabaya.tribunnews.com/Ahmad Zaimul Haq
Muntari (40) membawa bungkus lontong sebelum diproduksi di rumahnya di kawasan Kupang Krajan, Kamis (9/3/2017). Kampung Kupang Krajan dikenal sebagai kampung lontong karena sebagian besar warganya mendapat penghidupan dari membuat lontong untuk dijual di pasar. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Kelurahan Kupang Krajan, Kecamatan Sawahan, sudah cukup dikenal sebagai 'Kampung Lontong'. Di kampung ini, setidaknya ada 76 produsen lontong yang produknya menyuplai pasar se-Surabaya. 

Dalam sehari, kampung ini bisa menghabiskan dua ton beras untuk membuat lontong. Namun, para produsen ini mulai mengeluhkan langkanya daun pisang. Kondisi ini tentu berpengaruh pada harga lontong.

Salah satu produsen lontong di RT 4 RW 6, Umanto (60) mengatakan, daun pisang yang dipakai untuk produksi lontong selama ini didatangkan langsung dari Malang. Dulu sempat disuplai dari Surabaya dan Babatan.

"Sehari, biaya untuk beli daun aja Rp 200.000, itu untuk 300 biji produksi," ucap Umanto, yang jadi produsen lontong sejak 1997 ini.

"Semula hanya Rp 100.000," sambungnya.

Menurutnya, semakin langka dan mahalnya daun pisang ini, membuat ongkos produksi semakin tinggi. Padahal, harga lontong di pasar tidak bisa naik banyak.

Karena itu, ia hanya mengurangi ukuran lontong sampai satu sentimeter. Ini agar produsen tidak rugi banyak.

Sehari-hari, ia dan istri memproduksi lontong dengan menghabiskan 20 kilogram beras kualitas IR 63.

"Butuh 12 jam untuk menanak lontong. Dua jam lebih lama dibanding waktu normal agar lontong tanak dan tidak mudah basi sampai dua hari," terangnya.

Lontong yang ia produksi, untuk menyuplai ke Pasar Krukah, kawasan Ngagel. "Di sana sudah ada pengepulnya sendiri," ucap Umanto.

Dengan produksi 300 lontong sehari, sekitar tiga hingga empat tahun yang lalu, ia bisa untung bersih sampai Rp 90.000. Sedang saat ini, untung bersih Rp 60.000 sudah bagus.

Buruh Bantu

Dalam proses produksi itu, tidak hanya melibatkan produsen saja melainkan juga warga sekitar. Seperti, membuat selontongan daun. Yaitu, buruh bantu yang membuatkan buntalan daun untuk lontong.

"Iya, agar cepat warga sekitar juga diberdayakan. Bantu buat selontongan, dihargai perkeranjang," ucap Suwarni, istri Umanto.

Hal itu dibenarkan salah satu warga, Muntari, yang bertugas membuat selontongan lontong, Muntari.
Wanita ini membantu membuat selontongan daun untuk membantu ekonomi keluarga. Terlebih suaminya juga tidak bekerja alias nganggur.

"Sehari bisa bikin 15 keranjang. Satu keranjang isinya 80 selontongan. Upahnya dihargai perkeranjang Rp 2.500," ucap Muntari.

Tugasnya cukup mudah. Daun dijemur agar tidak keras, lalu digulung seukuran lontong yang akan dibuat. Kemudian, salah satu ujungnya dikait menggunakan lidi. "Alhamduliah bisa jadi penghasilan," ujarnya. 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved