Berita Surabaya

Pengadilan Negeri Surabaya Vonis Pemalsu Hologram Pita Cukai 2,5 Tahun

Sebelumnya, terdakwa Sanusi dituntut 3 tahun penjara dan denda Rp 71,4 miliar. Atas tuntutan itu, terdakwa sempat mengajukan pembelaan.

Pengadilan Negeri Surabaya Vonis Pemalsu Hologram Pita Cukai 2,5 Tahun
pixabay
Ilustrasi 

SURYA.co.id | SURABAYA - Terdakwa kasus pemalsuan hologram pita cukai, Sanusi asal Embong Malang Kebangsren divonis 2,5 tahun penjara oleh majelis hakim yang diketuai Unggul Warso Murti SH di Pengadilan Negeri (PN) Surabaya, Senin (6/3/2017).

Selain hukuman badan, hakim Unggul juga bersepakat kepada tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Bambang Djunaedi SH, yang sebelumnya menjatuhkan hukuman denda sebesar Rp 71, 4 miliar.

Denda tersebut merupakan akumulasi dari 10 kali lipat dari potensi kerugian uang negara.

"Apabila tidak dibayar maka sesuai ketentuan akan diganti dengan pidana kurungan selama 4 bulan," tutur hakim Unggul saat membacakan amar putusan di ruang sidang Tirta I.

Menurut hakim Unggul, tidak ada alasan pemaaf yang dapat menghapus perbuatan pidana terdakwa Sanusi. Pria kelahiran 43 tahun silam ini dinyatakan terbukti bersalah melanggar pasal 55 huruf a UU RI Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai Juncto Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP.

"Jika Anda tidak terima dengan putusan ini, silakan ajukan upaya hukum. Begitu pula dengan jaksa," tandas hakim Unggul sambil mengetukkan palu pertanda sidang berakhir.

Terdakwa Sanusi maupun JPU Hariwiadi (jaksa pengganti) menerima putusan hakim dan mereka langsung menandatangani berita acara putusan.

Sebelumnya, terdakwa Sanusi dituntut 3 tahun penjara dan denda Rp 71,4 miliar. Atas tuntutan itu, terdakwa sempat mengajukan pembelaan.

Perkara ini bermula dari pengungkapan Petugas Bea dan Cukai wilayah Jatim.

Saat itu petugas mendapatkan informasi jika di rumah terdakwa Sanusi ada kegiatan meemalsu hologram pita cukai.

Berdasarkan Berita Acara Identifikasi Keaslian Pita Cukai Hasil Tembakau TA 2015 dan TA 2016Â Nomor : 23A/PNP-HLG/BA.IPC/XI/2016 tanggal 4 November 2016 yang ditandatangani oleh Slamet Azagaf selaku penguji anggota tim task force adalah bukan produk Konsorsium Perum atau palsu. Total potensi kerugian Nlbegara sebesar Rp 7,1 miliar.

Setelah diselidiki, terdakwa mendapat order percetakan dari Aziz (DPO). Setiap mencetak hologram pita cukai, terdakwa Sanusi mendapat keuntungan sebesar Rp 300.000/rimnya.

Penulis: Anas Miftakhudin
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved