Advertorial

Dewan Apresiasi Pengelolaan Sampah Surabaya

KEBERHASILAN SURABAYA INI bermula sekitar tahun 2000 lalu, ketika warga Keputih dan sekitarnya dibuat kesal dengan keberadaan TPA Keputih.

Dewan Apresiasi Pengelolaan Sampah Surabaya
foto: citizen.com
TPA BENOWO - Salah satu sudut di lokasi perusahaan energi yang melakukan pengolahan sampah di TPA Benowo, Surabaya Barat. Sampah Surabaya kini punya nilai tambah. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Surabaya menjadi percontohanan pengelolaan sampah nasional. Sampai-sampai Wapres Jusuf Kalla (JK) datang untuk melihat lebih jauh pengelolaan sampah di kota ini.

"Pak JK hadir di Surabaya karena penasaran dengan pengelolaan sampah Surabaya yang dinilai berhasil. Kami juga mengakui keberhasilan ini," kata Ketua DPRD Surabaya Ir Armuji, Selasa (28/2/2017).

Politisi PDIP ini melihat ada kemauan kuat Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya untuk menjadikan pengelolaan sampah memberi nilai tambah.

Keberhasilan Surabaya ini bermula sekitar tahun 2000 lalu, ketika warga Keputih dan sekitarnya dibuat kesal dengan keberadaan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Keputih.

TPA ini memang berada dekat dengan area permukiman penduduk.

Akibatnya, bau dan cairan sampah meluber kemana-mana. Warga pun protes atas pengelolaan sampah yang tidak profesional waktu itu. Gelombang protes pun terus terjadi menuntut penutupan TPA.

"Situasi itu membangkitkan pemikiran bersama untuk mengelola sampah lebih baik. Maka, diputuskan TPA Keputih ditutup," kenang Cak Ji, sapaan Armuji.

Saat itu, kata dia, situasinya benar-benar sulit. Semua sampah menumpuk. Sampah dari Tempat Pembuangan Sementara (TPS) tak bisa diangkut ke TPA.

Bersama Pemkot Surabaya, DPRD Surabaya pun akhirnya mengupayakan untuk mencarikan tempat yang ideal untuk TPA.

Memilih lokasi TPA yang jauh dari permukiman. Pengelolaannya juga hrus bervisi ke depan.

Halaman
12
Penulis: Nuraini Faiq
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved