Selasa, 21 April 2026

Lifestyle

Jangan Terlalu Sering Konsumsi Permen Karet, Salah-salah Bisa begini Akibatnya

DARI PENELITIAN itu, zat adiktif ini dapat menurunkan kemampuan sel usus halus untuk menyerap nutrisi.

Penulis: Sudharma Adi | Editor: Parmin
flanagansmiles.com
ilustrasi : permen karet 

SURYA.co.id | SURABAYA - Hati-hatilah mengonsumsi permen karet. Itu karena konsumsi permen karet yang terlalu sering nantinya mengganggu pencernaan, terutama penyerapan nutrisi oleh usus halus.

Dilansir dari Boldsky.com, sebuah penelitian yang dilakukan Universitas Binghamton di New York AS menjelaskan, ada paparan kronis zat aditif makanan yang umum ditemukan pada permen karet hingga roti.

Dari penelitian itu, zat adiktif ini dapat menurunkan kemampuan sel usus halus untuk menyerap nutrisi dan bertindak sebagai penghalang untuk patogen.

Adanya senyawa pada zat adiktif, yang dikenal sebagai titanium dioksida, memang tak dapat dihindari ketika mengonsumsi permen karet.

Senyawa ini juga terdapat pada pasta gigi dan bisa masuk ke dalam pencernaan.
"Titanium oksida adalah adiktif makanan umum dan orang-orang telah terpapar itu dalam waktu yang lama. Jangan khawatir, hal itu tak akan membunuh anda! Tapi kami tertarik pada beberapa dampak dari senyawa ini, dan kami pikir orang harus tahu tentang itu," jelas seorang penulis studi, Gretchen Mahler, Asisten Profesor di Binghamton University, State University of New York, Selasa (21/2).

Dalam hasil penelitian ini yang sudah dipublikasikan dalam jurnal NanoImpact, para peneliti menggunakan model kultur sel usus kecil yang setara fisiologis layak makan.
Peneliti lalu memberikan nanopartikel titanium oksida - 30 nanometer lebih dari empat jam (akut), atau senilai tiga makan selama lima hari pada kultur sel itu.

Dari situ, adanya paparan kronis pada kultur sel membuat proyeksi penyerapan pada permukaan sel-sel usus yang disebut mikrovili berkurang.

Dengan penyerapan mikrovili lebih sedikit, penghalang usus melemah, metabolisme melambat dan beberapa nutrisi seperti zat besi, seng, dan lemak, khususnya lebih sulit untuk diserap.

Selain itu, fungsi enzim juga terkena dampak negatif, dan sinyal peradangan meningkat.
"Untuk menghindari makanan dan permen yang kaya nanopartikel titanium oksida, Anda tentu harus menghindari makanan olahan, dan terutama permen. Jenis makanan itu memang terdapat banyak kandungan senyawa titanium oksida," pungkas Mahler.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved