Berita Banyuwangi

Ajarkan Sains Lewat Teknologi, Banyuwangi Gelar Olimpiade MIPA SD Berbasis IT

Ribuan siswa SD di Banyuwangi mengikuti olimpiade MIPA berbasis teknologi. Beginilah suasananya.

Ajarkan Sains Lewat Teknologi, Banyuwangi Gelar Olimpiade MIPA SD Berbasis IT
surabaya.tribunnews.com/Haorrahman
Ribuan pelajar SD di Banyuwangi mengikuti olimpiade Matematika dan IPA berbasis IT, Kamis (16/2/2017). 

SURYA.co.id | BANYUWANGI - Sebanyak 1.200 siswa sekolah dasar (SD) mengikuti Olimpiade Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) berbasis teknologi informasi (IT) di Pendopo Sabha Swagata, Pemkab Banyuwangi, Kamis (16/2).

Ribuan siswa yang terdiri atas siswa kelas 3, 4, 5 dan 6 ini pun mengerjakan soal mengunakan laptop.

Untuk mengerjakan soal, tiap siswa mendapat kata kunci (password) untuk bisa mengunduh semua lembar pertanyaan dengan 50 soal sains.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengatakan, pemerintah daerah konsisten meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) sejak dini. Salah satu caranya dengan membiasakan anak-anak mengenal TI sejak SD.
Hampir semua SD di Banyuwangi telah dilengkapi lab komputer yang tersambung dengan internet sehat sebagai instrumen untuk belajar. Kabupaten Banyuwangi sendiri telah bertransformasi menjadi kota digital sejak tahun 2013 dengan pemasangan 1400 titik wi-fi.

“Perkembangan teknologi menjadi hal yang tidak bisa dihindari. TI sudah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari anak-anak kita. Kita ingin menunjukkan ke mereka bahwa teknologi ini tidak hanya sekedar untuk main game atau sesuatu yang sifatnya hiburan, namun teknologi harus banyak digunakan untuk memperkaya wawasan dan ilmu. Anak-anak harus bisa bisa menguasai TI untuk bekal kehidupan mereka di masa depan,” kata Anas.

Anas melanjutkan, Olimpiade MIPA berbasis IT yang diselenggarakan tidak hanya untuk mendekatkan IT, namun untuk mengajak anak-anak mencintai ilmu pengetahun dengan cara yang menyenangkan. Olimpiade ini telah dilaksanakan sejak tahun 2013.

“Bisanya MIPA menjadi pelajaran yang dianggap berat bagi sebagian anak. Lewat olimpiade ini kami ingin sebaliknya, mengajak anak-anak mencintai ilmu pengetahuan dengan cara yang menyenangkan dan tidak monoton,” ujarnya.

Salah satu peserta Olimpiade, Athaya Firdaus Nur Imansyah siswa kelas IV SDN 1 Sragi, Kecamatan Songgon mengatakan sangat senang mengikuti kegiatan ini. Baginya mengerjakan soal dengan laptop sangat menyenangkan.

"Pakai laptop lebih asyik daripada pakai kertas,” katanya.

Firdaus pun bersama temannya tampak antusias mengisi jawaban lewat laptonya. Mereka tampak asyik, meng-klik jawaban-jawaban soal.

Kepala Dinas Pendidikan Sulihtiyono, mengatakan bahwa pemanfaatan IT untuk olimpiade juga sebagai persiapan pelaksanaan ujian akhir SD dengan menggunakan sistem CBT (computer based test).

Dengan CBT, media ujian adalah seperangkat komputer dan software khusus yang telah diunduh sebelumnya. Bukan lagi menggunakan kertas sebagaimana sebelumnya.

“Kami ingin membiasakan anak-anak SD mengerjakan soal lewat layar komputer. Rencannya tahun 2018 mendatang sistem ini akan dimulai untuk timngkat SD. Kalau SMA dan SMK sudah dilaksanakan sejak tahun kemarin, sedangkan tingkat SMP dimulai tahun ini,” kata Sulihtiyono.

Setiap anak mengerjakan soal sebanyak 50 butir dengan soal yang diacak. Waktu yang disediakan untuk mengerjakan soal sebanyak 60 menit.

“Karena soalnya diacak jadi mereka tidak bisa saling mencontek, ini juga untuk melatih kemandirian dan kejujuran siswa,” cetus Sulihtiyono.

Penulis: Haorrahman
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved