Berita Surabaya

Gawat. . . Tiap Hari Ada Pasien Resisten Antibiotik di RSU dr Soetomo, Penyebabnya Bikin Miris

"Jika tidak ada tindakan global yang efektif, AMR akan membunuh 10 juta jiwa di seluruh dunia setiap tahun pada tahun 2050"

Gawat. . . Tiap Hari Ada Pasien Resisten Antibiotik di RSU dr Soetomo, Penyebabnya Bikin Miris
surya/sulvi sofiana
(kiri) ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr Hari Paraton SpOG(K) sata menjelaskan resistensi antibiotik dalam diskusi ā€¯Kendalikan Penggunaan Antibiotik untuk Mencegah Resistensi Antimikrobaā€¯ yang diadakan PT Pfizer Indonesia (Pfizer) , Minggu (12/2/2017). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Resistensi antimikroba (AMR) telah muncul sebagai salah satu tantangan dan menjadi isu kesehatan masyarakat yang semakin menyita perhatian para pemangku kepentingan kesehatan di seluruh dunia.

Bahkan di RSUD Dr Soetomo setiap hari pasti ditemukan pasien resisten antibiotik, baik rujukan atau yang memang dirawat.

Ketua Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA) Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, dr Hari Paraton  SpOG(K) mengatakan pemahaman dokter tidak tentu sama se- Indonesia.

Termasuk dalam pemberian antibiotik yang menjadi salah satu pemicu munculnya pasien resistensi antibiotik.

Tak jarang kasus resisten ditemukan pada pasien rujukan dalam kondisi parah.

“Tahun 2016 pernah ada pasien rujukan dengan kondisi luka bekas operasi caesar yang tidak lekas kering dan terus-terusan terbuka. Ini karena kebiasaan sebelum melahirkan meminum antibiotik dan jadi resisten, saat usai operasi oleh dokter diberi antibiotik terus, jadinya sel fauna aslibikut mati dan malah tidak bisa kering lukanya,” jelasnya usai diskusi ”Kendalikan Penggunaan Antibiotik untuk Mencegah Resistensi Antimikroba” yang diadakan PT Pfizer Indonesia (Pfizer) pada SURYA.co.id, Minggu (12/2/2017).

Menurut data Badan Kesehatan Dunia (WHO), pada tahun 2014 terdapat 480.000 kasus baru multidrug resistent tuberculosis (MDR-TB) di dunia.

700.000 kematian per tahun akibat bakteri resisten.

Selain itu, berdasarkan laporan the Review on Antimicrobial Resistance, memperkirakan bahwa jika tidak ada tindakan global yang efektif, AMR akan membunuh 10 juta jiwa di seluruh dunia setiap tahun pada tahun 2050.

"Angka tersebut melebihi kematian akibat kanker, yakni 8,2 juta jiwa per tahun dan bisa mengakibatkan total kerugian global mencapai USS 100 triliun. Data ini menunjukkan bahwa resistensi antimikroba memang telah menjadi masalah yang harus segera diselesaikan dan perlu adanya peningkatan kesadaran di masyarakat mengenai resistensi antibiotik," ungkapnya.

Halaman
12
Penulis: Sulvi Sofiana
Editor: Musahadah
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved