Berita Sumenep Madura

Kilau Daun Emas yang Kian Redup, Tembakau Dulu Primadona, Kini Merana

TEMBAKAU MADURA RIWAYATMU KINI. Selain cuaca yang tidak menentu, hampir 80 persen panen tembakau juga tidak terbeli.

Kilau Daun Emas yang Kian Redup, Tembakau Dulu Primadona, Kini Merana - gudang-perwakilan-pembelian-tembakau-di-sumenep-madura_20170201_220031.jpg
m rivai
Gudang perwakilan pembelian tembakau di Sumenep, Madura.
Kilau Daun Emas yang Kian Redup, Tembakau Dulu Primadona, Kini Merana - petani-tembakau-di-sumenep-madura_20170201_220207.jpg
m rivai
Petani tembakau di Sumenep, Madura.

SURYA.co.id | SUMENEP - Bagi masyarakat Madura, garam dan tembakau adalah dua komoditas pertanian primadona dari sejak zaman nenek moyangnya.

Bertani garam dan tembakau satu-satunya cara untuk bisa bertahan hidup, bahkan dulu, bagi petani tembakau, sekali panen tembakau bisa untuk membiayai ongkos naik haji ke tanah suci Makkah.

Tetapi sejak beberapa tahun terakhir ini, bertani tembakau bukanlah satu-satunya pekerjaan bisa menjadi penopang hidup mereka.

Di samping karena tataniaga tembakau yang hingga saat ini belum berpihak kepada petani selaku penjual hasil panen tembakau, tetapi juga karena hasil panen tembakau yang selalu gagal.

H Hafiduddin, Ketua Paguyuban Petani Tembakau Rakyat (PGTR) Sumenep kepada SURYA.co.id menuturkan, semakin tahun, petani tembakau semakin berkurang.

Walaupun sejatinya lahan tembakau yang tersedia di beberapa wilayah Kabupaten Sumenep tersedia cukup banyak dan lokasinya cukup bagus untuk lahan tanam tembakau.

‘’Tahun 2016 lalu ploting lahan dan area tembakau mencapai 21.923 hektare.  Tetapi yang digunakan petani hanya sekitar 14.000 hektar. Berarti masih ada sisa sekitar 50 persen areal tembakau mangkrak,’’ papar Hafiduddin, Rabu (1/2/2017).

Dikatakan, kosongnya lahan atau area tanaman tembakau pada tahun 2016 lalu, disamping karena lantaran cuaca yang tidak mendukung dan karena sebagian besar petani tembakau yang sudah berkali-kali menanam bibit tembakau karena mati, juga karena setiap tahunya harga tembakau selalu tidak pasti.

"Kami ini tanam tembakau ibarat bermain tebak-tebakan. Kalau tahun lalu harga tembakau mahal, maka tahun ini belum tentu. Bisa-bisa harganya anjlok, jauh lebih rendah dari harga tembakau sebelumnya,’’ sambung pedagang hewan ternak yang nyambi tanam tembakau ini.

Salah satu contoh harga tembakau pada tahun 2015 lalu, untuk jenis tembakau gunung kualitas A dibandrol Rp 45 ribu perkilogram. Tembakau gunung kualitas B diharga Rp 35 ribu perkilogramnya. ‘’ Sedang tahun 2016 kemarin, harga tembakau kualitas A dibeli dengan harga tertinggi Rp 40 ribu dan kualitas B Rp 30 ribu,’’ bebernya.

Halaman
123
Penulis: Moh Rivai
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved