Profil
Trisniartami Setyaningrum : Dokter yang Ramah Tertulis di Hati Sejak Kecil
Sejak kecil Trisniartami Setyaningrum sudah mengidamkan dan menulis profesi sebagai dokter di hatinya.
Penulis: Wiwit Purwanto | Editor: Titis Jati Permata
SURYA.co.id | SURABAYA - Menjadi seorang dokter sudah menjadi cita citanya sejak kecil.
Namun menjadi dokter spesialis kulit baru ditemukan ketika ia menjalani praktek sebagai dokter muda.
Sejak kecil Trisniartami Setyaningrum sudah mengidamkan dan menulis profesi sebagai dokter di hatinya.
Sederhana sekali, kata Trisni begitu wanita kelahiran Muara Enim 12 Februari 1973 disapa, saat itu ia merasa sangat suka dengan dokter gigi yang kerap membantu perawatan gigi keluarganya.
"Dokter gigi itu cantik dan memancar khariama," kenang anak ke 3 dari 4 bersaudara pasangan Imam Utomo dan Anik Triwinarni.
Namun Trisni waktu itu belum bisa membedakan antara dokter gigi dan dokter umum.
Hanya satu hal yang ia perhatikan, dokter ini bisa membantu orang yang sedang sakit.
Melihat ini keinginan untuk menjadi seorang dokter terus menguat. Hingga lulus SMA saat itu Trisni sekolah di SMAN 1 Malang ia mengikuti ujian masuk perguruan tinggi negeri dan mengambil Fakultas Kedokteran Unair.
"Saya membayangkan nantinya sekolah di Kedokteran Unair ini bisa mewujudkan keinginan saya untuk menjadi dokter," ungkapnya.
Ia berusaha belajar dan bekerja keras agar impian menjadi dokter terwujud.
Dari upaya yang tak kenal lelah, ia patut bersyukur di tahun 1991 diterima di fakultasnya para dokter itu.
Rasa haru mencapai impian sebagai seorang dokter terasakan ketika ia lulus dari FK Unair pada tahun 1999.
Sebagai dokter muda ia mendapat penugasan di beberapa rumah sakit. Saat itulah ia menemukan satu kecintaan pada masalah kulit.
"Pada awalnya tertarik pada keramahan dokter gigi, tapi lebih tertarik lagi untuk mendalami masalah kulit dan kelamin," paparnya.
Bisa saja ketertarikan ini karena kebiasaan hidup bersih yang ia terapkan.
Di tambah lagi saat studi sebagai dokter umum, masalah kulit cukup tinggi. Dari penyakit kulit ringan hingga yang berat.
"Saya menilai penyakit kulit ini mengakibatkan ketidaknyamanan karena tidak bersih," cetusnya.
Dari sini ia memutuskan untuk lebih mendalami masalah penyakit kulit dengan mengambil studi spesialis kuli dan kelamin di FK Unair.
Cinta terhadap kebersihan ini pun tertuang dalam penelitian tentang scabies (gudik). Baginya penelitian itu dilakukan karena ia prihatin dengan mudahnya penyebaran scabies di lembaga pendidikan pesantren.
Bantu Orang Lain
Perawatan kulit memiliki dua makna yaitu kesehatan dan estetika. Makna kesehatan menjadi yang utama dalam perawatan kulit.
Bagi masyarakat perkotaan perawatan kulit telah menjadi bagian dasar kehidupan.
Gangguan pada kulit baik yang muncul saat dewasa atau bawaan sejak lahir bisa saja mempengaruhi tingkat kepercayaan diri.
Dari sini ia bersama teman temannya seperti dr Wawan, dr Putu menginginkan ada satu klinik tempat perawatan khusus kulit dengan sumber daya dokter dokter spesialis di bidangnya.
Dari sini mereka mendirikan sebuah klinik khusus perawatan kulit, Surabaya Skin Centre.
"Saya sangat bersemangat menjadi bagian dari visi mendirikan lembaga perawatan kulit yang memiliki teknologi modern," ujarnya.
Respon masýarakat sangat bagus, karena saat itu baru pertama kalinya berdiri sebuah klinik kesehatan kulit dengan dokter dokter spesialis.
Sesuai dengan impian kecilnya, Trisni terus mengikuti dan mempelajari perkembangan teknologi medis untuk perawatan kulit. Seperti laser medicine.
"Saya ingin menguasai laser medicine secara sempurna, agar bisa mewujudkan impian saya sejak kecil, membantu masalah orang lain terutama melalui kesehatan kulit," harapnya penyuka traveling.
Harus di Rumah
Sesibuk apapun Trisni tetap memegang disiplin untuk selalu menyediakan waktu buat keluarga dirumah
Kedisiplinan ini rupanya sudah mengakar kuat sejak kecil karena orangtuanya yang memang seorang tentara.
"Dinas ayah sebagai perwira tentara menciptakan banyak pengalaman bagi saya," ujarnya.
Ayahnya, Imam Utomo adalah mantan Pangdam V Brawijaya yang juga mantan Gubernur Jawa Timur.
Sering mengikuti orangtuanya berpindah tugas dari satu kota ke kota lain menjadikan ia lebih berdisiplin dalam mengatur waktu.
Demikian juga sekarang, lewat waktu Maghrib Trisni belum ada dirumah, suaminya yang juga dokter spesialis kandungan Brahmana Askandar akan meneleponnya dan mengingatkan untuk segera pulang.
"Maghrib sudah di suruh pulang shalat bareng, ngurusi anak kalau malam, karena ada yang masih kecil baru kelas 3 SD," ujar Trisni yang juga menjabat kepala unit rawat jalan kulit dan kelamin RSU dr Soetomo.
Dengan begitu ia harus pandai mengatur waktu,praktek di RSU dr Soetomo, dosen di FK Unair dan menjalankan klinik di Surabaya Skin Centre.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/surabaya/foto/bank/originals/berita-surabaya-dokter-kulit-kelamin_20170130_154752.jpg)