Berita Banyuwangi

Malam Budaya Tionghoa Berpadu dengan Seni Banyuwangi di Perayaan Imlek

Mengenakan kostum warna merah, ratusan warga Tionghoa dari berbagai wilayah di Banyuwangi berkumpul bersama.

Malam Budaya Tionghoa Berpadu dengan Seni Banyuwangi di Perayaan Imlek
surya/haorrahman
Suasana perayaan Imlek di Kabupaten Banyuwangi, Rabu (25/1/2017) malam. 

SURYA.co.id | BANYUWANGI - Perayaan Tahun Baru Imlek yang ke-2568 di Kabupaten Banyuwangi berlangsung, di Gelanggang Seni Budaya Blambangan, Rabu (25/1/2017) malam.

Pemkab Banyuwangi menghelat "Malam Budaya Tionghoa".

Mengenakan kostum warna merah, ratusan warga Tionghoa dari berbagai wilayah di Banyuwangi berkumpul bersama.

Lampion-lampion yang menjadi ciri khas perayaan Imlek semakin menambah semarak suasana di sepanjang lokasi yang berada di jantung kota Banyuwangi.

Kesenian khas masyarakat Tionghoa ditampilkan dan berpadu dengan kesenian khas Suku Using (masyarakat asli Banyuwangi), seperti musik pengiring angklung, tari pitik-pitikan, hingga barong.

Ketua Paguyuban Warga Tionghoa Banyuwangi, Pek Ing Gwan, sangat mengapresiasi digelarnya acara ini. Keberagaman yang ada di Banyuwangi bisa tetap menghasilkan masyarakat yang harmonis.

"Acara ini sangat bagus untuk memupuk rasa saling memahami dan menghormati. Di setiap acara hari besar yang kami gelar, kami juga selalu melengkapi suguhan dengan mengangkat budaya lokal untuk tampil bersama, sehingga semua hidup dalam harmoni," kata Indrawan, sapaan akrab Pek Ing Gwan.

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas yang hadir bersama Wabup Yusuf Widiyatmoko mengatakan, acara ini digelar untuk semakin memupuk kebersamaan di tengah masyarakat.

"Tak hanya kesenian warga Tionghoa yang ditampilkan, namun juga kesenian lokal. Ini benar-benar wujud dari keberagaman di Banyuwangi yang harus dimaknai sebagai realitas sosial yang mesti disikapi dengan bijak, yaitu dengan saling menghargai dan menghormati, "ujar Anas.

Anas menambahkan, suasana jelang Imlek mengingatkannya pada sosok KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Presiden RI keempat.

Gus Dur merupakan tokoh yang memberi ruang bagi upaya saling menghargai dalam perbedaan.

Gus Dur pula yang berinisiatif membuka ruang ekspresi kebudayaan bagi warga Tionghoa di negara ini.‎

"Budaya Tionghoa pada masa beliau menjabat Presiden diberi ruang yang luas. Beliau adalah tokoh besar sekaligus ulama yang menjunjung tinggi toleransi. Karena itu, dalam peringatan semacam ini, kita harus berterima kasih kepada Almarhum," kata Anas.‎

Penulis: Haorrahman
Editor: Titis Jati Permata
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved