Senin, 27 April 2026

Berita Bangkalan Madura

Perajin Gitar Akustik Bangkalan Berharap Sentuhan Pemerintah, Bosan Bikin Proposal Tak Ada Respons

SAMBIL MENGHELA NAPAS panjang, pria dengan enam anak itu mengaku, sejatinya ia sudah merasa lelah setelah 20 tahun menggeluti produksi gitar akustik.

Penulis: Ahmad Faisol | Editor: Parmin
surya/ahmad faisol
Agung Pandu Wijaya menunjukkan hasil karyanya gitar akustik di rumahnya Kampung Bunot, Kelurahan Bancaran, Kecamatan Kota, Minggu (22/1/2017). 

SURYA.co.id | BANGKALAN - Di tengah dorongan pemerintah agar masyarakat mampu menciptakan peluang usaha sebagai upaya tercipatanya lapangan pekerjaan baru, produksi gitar di Kampung Bunot, Kelurahan Bancaran, Kecamatan Kota, Cajanna Gitar Akustik seolah mati suri.

Padahal, suara gitar karya Agung Pandu Wijaya (45) sudah sampai ke telinga masyarakat di pelosok nusantara, bahkan hingga ke Malaysia.

Di bawah rindang pepohonan, Agung membentangkan terpal biru sebagai atap, penambah penyejuk 'ruang' kerjanya. Tidak ada sekat - sekat dinding layaknya ruang produksi.

Semilir angin tentu saja dengan mudah mengeringkan keringat Agung yang tengah menjemur bagian tubuh gitar atau soundboard berbahan solid wood.

"Maaf Mas, jemurnya di tempat jemuran pakaian. Adanya seperti ini, ruang kerjanya ya seperti ini," ungkap Agung ketika ditemui SURYA.co.id, Minggu (22/1/2017).

Sambil menghela napas panjang, pria dengan enam anak itu mengaku, sejatinya ia sudah merasa lelah setelah 20 tahun menggeluti produksi gitar akustik karena terkendala modal. Bahkan, pria kelahiran Bangkalan itu kesulitan hanya untuk membeli lem dan bahan - bahan produksi lainnya.

Namun karena tidak mempunyai keterampilan lain, pesanan gitar akustik tetap ia kerjakan. Sebulan, ia masih mampu menyelesaikan rata - rata 25 gitar akustik. Itu pun dengan sistem uang muka 50 persen.

"Proposal pengajuan dana ke pemerintah sudah sering, sampai bosan. Terakhir di tahun 2015, saya ajukan ke Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Dinas Sosial dan Ketenagakerjaan, dan Dinas Pemuda dan Olahraga di Bangkalan. Namun, tidak satu pun yang tertarik," tuturnya dengan tatapan kosong.

Proposal yang dilayangkan Agung bukan untuk kepentingan pribadi. Melainkan upaya menciptakan kampung sentra industri gitar. Dengan kualitas produksinya, ia yakin mampu membuka lapangan pekerjaan baru baru para pemuda Bangkalan.

Kendati Pemerintah Kabupaten Bangkalan tidak mendukung, ia bertekad memberikan pelatihan terhadap delapan pemuda. Mereka dari keluarga tidak mampu yang sengaja diberikan pelatihan kerja memproduksi gitar.

Namun, kegiatan itu hanya bertahan hingga empat bulan, Januari hingga April 2015.

Ia berharap, pemberian pelatihan cara membuat gitar bisa memberikan keterampilan usaha. Sehingga, para pemuda usia produktif tidak terjerumus ke pergaulan negatif atau tindakan kriminal.

"Ketika modal pelatihan dari saku pribadi sebesar Rp 40 juta habis, ya macet. Uang itu saya bayar untuk honor mereka, biar semangat. Namun akhirnya, ternyata saya tidak mampu melanjutkan," terangnya.

Agung yang sering berpindah kontrakan itu tidak berharap banyak dari pemerintah. Hanya dukungan fasilitas dan peralatan kerja seperti alat oven. Namun hingga kini, suara merdu dari gitar - gitar karya tangan Agung belum juga sampai ke telinga pemerintah.

"Mungkin jika saya ada di kabupaten lain, tidak sesulit ini. Melatih dan bekerja dengan 20 perajin dalam satu manajemen akan lebih mudah. Karena kendati seperti ini, pesanan gitar masih berdatangan," pungkasnya.

Mantan pengamen kelahiran Blitar, Ulum Yulianto (28) yang mengenal Agung sejak 2006 mengaku, pelatihan pembuatan gitar selama empat bulan memberikan tambahan pengetahuan sebagai modal keterampilan usaha.

"Namun sayang, tidak berlangsung lama. Tapi saya bisa bantu - bantu Mas Agung sampai sekarang, ketika pesanan melimpah," ungkap pemuda yang berdomisili di Desa Bator, Kecamatan Klampis.

Ulum yang pernah kursus gitar dengan uang hasil mengamen itu menjelaskan, keterampilan yang ia dapatkan nantinya akan dijadikan modal untuk membuka usaha pembuatan gitar di kampung kelahirannya.

"Harga gitar akustik tergantung pesanan, mulai dari Rp 600 ribu hingga Rp 1,5 juta. Kalau bahan dari kayu mapel (import), ya mahal," pungkasnya.

Sementara itu, musisi genre Pop Rock sekaligus pengajar teknik bermain gitar, Yanto asal Desa/Kecamatan Socah mengakui kualitas hand made Agung. Menurutnya, suara gitar akustik produksi Agung sudah mempunyai karakter dan playablelity.

"Sejak 1996, saya mencari perajin gitar yang pas untuk saya pakai sendiri, bahkan hingga se Madura. Tapi di sini, barulah saya menemukan. Peralatan sederhana tapi tune fokus dan presisi sekali," ungkap Finalis Festival Log Zhelebour di tahun 2000 itu.

Alumnus Yayasan Musik Indonesia (Yasmi) Surabaya tahun 1989 - 1993 itu menyatakan, keprihatinan dengan sosok Agung yang memiliki potensi dan kepedulian tinggi terhadap anak muda.

Karena itulah, Yanto yang pernah menelurkan satu album itu tengah serius menggandeng Agung untuk proyek pembuatan gitar akustik fan elektrik. Semua design dan spek gitar berasal dari ide - ide Yanto, menyesuaikan pesanan.

"Karyanya hanya lemah di finishing saja karena keterbatasan peralatan. Kelemahan itu yang akan saya coba tutupi," tandas pentolan grup Band 1127 itu.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved