Rabu, 10 Juni 2026

Citizen Reporter

Kado Apik 1 Abad Kebun Binatang Surabaya

tentu saja banyak kisah, cerita, suka dan duka menapaki 100 tahun Kebun Binatang Surabaya dan terlalu ringkas dikemas dalam satu kado buku..

Tayang:
Editor: Tri Hatma Ningsih
pixabay
Harimau Sumatera 

Reportase ANANG DONY IRAWAN
Pegiat literasi/penikmat sejarah

KEBUN Binatang Surabaya yang lebih lekat dengan sebutan Bonbin, genap berumur satu abad. Cikal bakal Bonbin ini dirintis jurnalis HF Kommer, medio 1916 silam.

Sebagai tanda cinta 100 tahun Bonbin ditandai dengan terbitnya buku Bonbin, dalam Kisah dan Tjerita, diluncurkan Kamis (19/1/2017). Buku setebal 249 halaman itu ditulis Henri Nurcahyo dan Dhahana Adi Pungkas.

100 Tahun bukan perjalanan yang sebentar untuk KBS. Dalam rentang waktu tersebut bukan tidak mungkin banyak kenangan yang tak terlupakan. Riset dan wawancara dilakukan demi mendapatkan ruh sebenarnya kondisi KBS.

Alhasil buku ini menyajikan 36 kisah dan galeri foto yang dibuang sayang. Semua tulisan di dalamnya menarik untuk dibaca, di mulai dari Mengapa Kebun Binatang? Mengapa Bukan Kebun Hewan? hingga Kebun Binatang Mentas di Panggung Teater.

Dari nama Soerabaiasche Planten En Dierentuin (Zoo) dalam bahasa Belanda yang berubah menjadi Direnten bagi lidah Jawa hingga tahun 1980-an.

Izin pendiriannya ditandai dengan keluarnya Surat Keputusan Nomor 40 tanggal 31 Agustus 1916 yang ditandatangani Sekretaris Umum Gubenur Jenderal, Hullsholff Pol.

Pada akhirnya tanggal 31 Agustus ditetapkan sebagai tanggal lahir Kebun Binatang Surabaya.

Kebetulan, ulang tahun Bonbin sama dengan hari kelahiran Ratu Wilhelmina. Saat Bonbin lahir, Sang Ratu berusia 36 tahun.

Pada kenyataannya, Bonbin nyaris tutup karena merugi. Hal tersebut terjadi pada rapat 21 Juli 1922, Bonbin dinyatakan krisis serius dan pilihannya adalah ditutup!

Dengan upaya maksimal, beberapa pengurus membujuk Burgemeester van Soerabaia alias Wali Kota Surabaya waktu itu, GJ Djikerman dan anggota Dewan Kota, A Van Gennerp agar bisa menjadi donatur utama Bonbin. Upaya tersebut berhasil, dan Bonbin bertahan hingga sekarang.

Salah satu tulisan yang disajikan Henri Nurcahyo, di Bonbin dulunya ada koleksi satwa bernama Makua. Dengan adanya Makua, groila asal Afrika, pengunjung Bonbin mencatat rekor paling banyak.

Mantan penghuni kebun binatang Rotterdam, Belanda itu menjadi koleksi kesayangan pengunjung Bonbin. Didatangkan tahun 1978, namun 1979 Makua mati. Hanya 13 bulan Makua menjadi binatang idola Bonbin, gorila pertama dan terakhir yang pernah ada di Bonbin.

Banyak kisah dan cerita menarik lainnya selama satu abad Bonbin Surabaya.

Sumber: Surya Cetak
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved