Jumat, 24 April 2026

Berita Pendidikan Surabaya

Berada di Sekolah Inklusi, Orangtua Siswa Tetap Dituntut Waspada

Bila anak dibiarkan begitu saja tanpa pengawasan yang intens, ditakutkan akan terjadi hal yang tidak diinginkan.

Penulis: Rahadian Bagus | Editor: Titis Jati Permata
surya/habibur rohman
Suasana belajar siswa inklusi di SMP Negeri 39 Surabaya, Rabu (18/1/2017). 

SURYA.co.id | SURABAYA - Sekolah inklusi merupakan sekolah reguler yang menyatukan anak-anak dengan dan tanpa berkebutuhan khusus, untuk mengikuti proses belajar mengajar bersama-sama.

Sistem belajar di kelas inklusi tidak jauh berbeda dengan sekolah umumnya.

Siswa berada dalam satu kelas, yang idealnya terdiri dari satu hingga enam anak berkebutuhan khusus (ABK) dengan dua guru dan satu terapis atau shadow teacher.

Mereka bertanggung jawab di bawah koordinasi guru untuk memberi perlakuan khusus kepada anak-anak. Sehingga, para siswa dapat mengikuti pelajaran dengan baik.

Namun, porsi belajar pada ABK lebih kecil daripada siswa normal. Tidak bertujuan untuk membatasi, melainkan kebutuhan untuk terapi.

Pada waktu-waktu tertentu, bila perlu anak-anak ini akan ditarik dari kelas reguler dan dibawa ke ruang individu untuk mendapat bimbingan khusus.

Meski ada yang membedakan dalam teknis penyampaian materi belajar, ABK benar-benar diperhatikan dalam pergaulannya.

Jangan sampai perilaku anak yang memiliki kemampuan normal bisa seenaknya pada anak-anak berkebutuhan khusus ini.

Kekhawatiran inilah yang kerap dirasakan para orangtua, seperti diungkapkan oleh Citra Insania.

Ia mengatakan, kekhawatiran kerap melanda, jika kelas inklusi berada di area sekolah umum.
"Takutnya ketika anak-anak istirahat diejek, di-bully. Ini akan jadi beban psikologis mereka," katanya, Kamis (19/1).

Walaupun dilengkapi segudang fasilitas penunjang dari Pemkot Surabaya, Citra menghimbau pada orangtuanya untuk tetap mawas diri.

Sebab, bila anak dibiarkan begitu saja tanpa pengawasan yang intens, ditakutkan akan terjadi hal yang tidak diinginkan.

"Kami tidak akan tahu bagaimana rutinitas anak seharian di sekolah. Anak-anak yang normal saja bisa dilecehkan, apalagi anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus. Hal-hal seperti harus dipertimbangkan dan diperhatikan orangtua dan guru," tegasnya.

Hal senada disampaikan Rere Rohmawati, yang mengatakan, perhatian utama tetap dari orangtua meski anak dipercayakan pada guru di sekolah.

Akan tetapi kewaspadaan itu perlu dilakukan karena anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus tidak bisa diperlakukan sama dengan anak-anak normal lainnya.

Menurut Rere, pemilihan guru termasuk menentukan kualitas anak.

"Kalau guru tidak sabaran, anak bukannya pinter, justru tambah keterbelakangan. Sebagai orangtua harus tahu bagaimana gurunya, sekolahnya, baik swasta maupun negeri, seperti apa," papar Rere.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved