Ekonomi dan Bisnis

Pedasnya Harga Cabai Rawit Picu Inflasi di Jatim, Ini Alasannya

Harga cabai rawit merah di Jatim masih tinggi. Sampai-sampai tingginya harga komoditas ini bisa jadi pemicu inflasi di Jatim. Ini alasannya.

Pedasnya Harga Cabai Rawit Picu Inflasi di Jatim, Ini Alasannya
surya/M Taufik
Pedagang di Pasar Gresik memperlihatkan cabe rawit. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Tingginya harga cabai rawit merah diperkirakan akan memicu inflasi di Jatim sepanjang bulan Januari 2017.

Pasalnya, hingga Rabu (18/1/2017), harga rata-rata cabai rawit di Jatim berdasarkan data sistem informasi ketersediaan harga bahan pokok (Siskaperbapo) Dinas Perindustrian dan Pedagangan (Disperindag) Jatim masih bertahan di Rp 88.670 per kilogram.

Harga diatas Rp 85.000 ini sudah bertahan selama dua minggu. Bahkan untuk beberapa wilayah, seperti Kabupaten Sumenep dan Kabupaten Pamekasan, harga cabe rawit masih mencekik, yakni Rp 105.000 per kilogram. Sementara di Kabupaten Bojonegoro harganya Rp 100.000.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jatim, Teguh Pramono mengatakan, dengan masih tinggi dan bergejolaknya harga cabai rawit di pasar, sangat mungkin komoditas ini akan menjadi satu dari sejumlah komoditas dan faktor lain yang memicu terjadinya inflasi di bulan Januari.

"Pengalaman tahun lalu kan seperti itu. Cabai rawit dan bawang merah di bulan-bulan tercatat jadi pemicu inflasi," ujarnya kepada Surya Online.

Namun, faktor pemicu inflasi tidak hanya cabai rawit. Ada komponen lain yang diperkirakan berpotensi mengerek terjadinya inflasi di bulan Januari.

Beberapa diantaranya, kata Teguh adalah, kenaikan tarif STNK dan BPKB serta kenaikan harga BBM non subsidi yang sering meskipun hanya Rp 300 biasanya tetap berpengaruh terhadap psikologi masyarakat.

Selain itu, banjir di Pasuruan yang dikhawatirkan mengganggu jalur distribusi dan hujan deras yang terjadi di beberapa daerah sentra pertanian di Jatim juga dikhawatirkan berdampak pada produk komoditas sejenis.

"Tapi terkait berapa angka inflasinya, kami belum bisa memperkirakannya," tegasnya.

Meski demikian, berdasar pola selama ini, biasanya inflasi di bulan Januari, kata Teguh kecenderungannya lebih tinggi dibanding bulan Desember.

Halaman
12
Penulis: Mujib Anwar
Editor: Eben Haezer Panca
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved