Breaking News:

Berita Jombang

Dinas Pendidikan Jombang Incar Dana Tanggap Darurat untuk Rehab SD yang Ambruk

SDN Randuwatang di Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang telah ambruk dan belum direnovasi karena belum ada anggaran. Ini siasat Dinas Pendidikan.

Penulis: Sutono
Editor: Eben Haezer Panca
Surabaya.tribunnews.com/Sutono
Reruntuhan SDN Randuwatang yang belum direnovasi. 

SURYA.co.id, JOMBANG - Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang secepatnya akan mencari dana guna merehabilitasi ruang SDN Randuwatang, Kecamatan Kudu yang ambruk.

Berbagai alternatif sumber pendanaan pun digagas. Antara lain melalui mekanisme Perubahan APBD (PAPBD). Tapi jika langkah ini dianggap terlalu memakan waktu, dipertimbangkan menggunakan dana tanggap darurat bencana.

“Yang pasti bisa dijalankan adalah melaui PAPBD. Tapi waktunya memang agak lama. Karena itu kemungkinan mencari alternatif lain, misalnya mengambil dana tanggap darurat,” Kepala Disdik Jombang Drg Budi Nugroho, kepada Surya.co.id, Selasa (17/1/2017).

Tetapi, sambungnya, untuk menggunakan dana tanggap darurat, harus didiskusikan dengan berbagai pihak karena mesti memenuhi berbagai persyaratan khusus.

“Kami akan diskusikan dulu dengan Bagian Hukum, BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) dan Bappeda. Kalau tidak menabrak aturan, kami pakai itu (dana tanggap darurat). Kalau tidak bisa, terpaksa pakai dana P-APBD,” terang mantan Kepala Badan Kepegawaian Daerah (BKD) ini.

Menurut perhitungan sementara, kebutuhan untuk merehabilitasi atap yang roboh itu sebenarnya tidak terlalu banyak karena hanya mengganti genting dan kerangka penyangga atap.

“Temboknya masih bagus. Jadi perkiraan hanya perlu biaya Rp 150 juta untuk rehab,” cetus Budi.

Disinggung mengenai proses belajar para siswa di SDN Randuwatang, Budi menyatakan bahwa kegiatan belajar mengajar tetap berjalan meski harus menggunakan musala dan menggabungkan dua kelas dalam satu ruang.

"Di sini siswanya kebetulan hanya 51 orang anak. Jadi, tidak terlalu masalah kalau satu ruangan jadi dua kelas. Yang penting pihak sekolah tetap melaksanakan proses belajar," pungkas Budi.

Diberitakan sebelumnya, atap bangunan SDN Randuwatang, Kecamatan Kudu, Jombang, ambruk.

Kendati tidak ada korban jiwa, namun akibat kejadian itu, siswa harus belajar di musala sekolah. Sebagian lagi harus menggunakan ruang terpisah bersamaan dengan kelas lain.

Siswa yang yang harus belajar di musala dan ruang kelas lain akibat peristiwa ini adalah siswa kelas 1, 2, dan kelas 3. Para siswa tiga kelas itu biasanya menggunakan bangunan yang ambruk dan kelas di sebelahnya yang kini dikosongkan.

“Untuk siswa kelas 1 menempati musala. Sedangkan siswa kelas 2 dan 3 menumpang di ruangan kelas lain. Ini terjadi setelah atap kelas 1 roboh dan ruang sebelahnya dikosongkan karena kondisinya juga juga sudah lapuk,” kata Kepala SDN Raduwatang Subejo.

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved