Berita Regional

Tak Seperti Cabai, Harga Tomat Terjun Bebas, Ini yang Dilakukan Petani

Murahnya harga tomat disebabkan produksi tomat sedang melimpah. Sementara permintaan konsumen masih stabil.

Tak Seperti Cabai, Harga Tomat Terjun Bebas, Ini yang Dilakukan Petani
pixabay
Ilustrasi 

SURYA.co.id | MAGELANG - Melambungnya harga cabai beberapa pekan terakhir ternyata tidak diikuti harga komoditas lain.

Harga tomat, misalnya, justru terjun bebas hingga Rp 1.000 - Rp 1.200 per kilogram dari petani di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.

Nur Waluyo, petani dari Desa Polengan, Kecamatan Srumbung, mengatakan, biasanya harga tomat berkisar Rp 4.000 - Rp 5.000 per kilogram.

Murahnya harga tomat disebabkan produksi tomat sedang melimpah. Sementara permintaan konsumen masih stabil.

Nur berujar, hampir setiap tahun terjadi kondisi seperti saat ini.

Para petani tidak jarang membuang hasil panen tomatnya, ada juga yang sengaja tidak memanen dan membiarkannya membusuk di pohon.

"Saking murahnya petani enggan menjualnya. Ada yang cuma dikasihkan warga, enggak dipanen, bahkan dibuang gitu aja," ujar Nur, Jumat (13/1/2017).

Menurut Nur, harga tomat yang terlalu murah itu juga disebabkan kualitas tomat itu sendiri.

Tomat yang ditanam dengan metode konvensional cenderung tidak berkualitas, baik dari segi ukuran maupun rasa.

"Tomat juga mengandung banyak bahan kimia (pestisida). Ada konsumen tertentu yang lebih suka tomat organik," katanya.

Maka dari itu Nur yang juga anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Srumbung itu mengajak para petani untuk mulai beralih menanam tomat, maupun komoditas lainnya, dengan metode alami dan berkesinambungan.

Tanaman milik Nur dirawat menggunakan pupuk alami, menggunakan kotoran sapi yang diracik dengan bahan alami lainnya kemudian difermentasi sendiri.

Hasil panen tomat miliknya berukuran lebih besar, warna buah ranum, dan segar.

Pemakaian pupuk alami juga dinilai ramah lingkungan dan kualitas tanah tetap terjaga baik untuk jangka panjang karena tidak meninggalkan residu.

"Karena kualitas yang baik, kita (petani) bisa menjualnya bisa lebih mahal," ungkapnya. (Ika Fitriana)

Editor: Titis Jati Permata
Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved