Berita Surabaya

Anak-anak Dolly Pentas Teater : Ingin Menunjukkan ke Semua Orang Kita Juga Bisa

"ADA beberapa temanku orangtuanya nggak bisa hadir. Tapi mereka tetap semangat. Jadi aku nggak boleh kalah semangat."

Anak-anak Dolly Pentas Teater : Ingin Menunjukkan ke Semua Orang Kita Juga Bisa
surya/ahmad zaimul haq
BERMAIN MENDUNG - Sejumlah anak dari kawasan Dolly mementaskan Teater berjudul Bermain Mendung di Gedung Srimulat malam ini, Jumat (30/12/2016) 

SURYA.co.id | SURABAYA - Risca Amelia Tampubolon menghela nafas lega usai membawakan tari Saman, pada acara Pentas Tunggal Teater berjudul Bermain Mendung di Gedung Srimulat malam ini, Jumat (30/12/2016).

Tak hanya Risca, tujuh anak dari kawasan Dolly lainnya tak kalah girang sudah selesai membawakan tarian khas Aceh itu, sebagai pembuka acara.

Kegembiraan Risca juga berlipat ketika kedua orangtuanya turut hadir.

"Ada beberapa temanku orangtuanya nggak bisa hadir. Tapi mereka tetap semangat. Jadi aku nggak boleh kalah semangat. Aku dan teman-teman senang sekali karena kami juga bisa menampilkan sebuah tarian seni untuk banyak orang," katanya.

Benar, pentas Tunggal ini dimainkan oleh anak-anak dari lingkungan Dolly Surabaya.

Tak lain tujuannya untuk mengubah wajah Dolly yang dikenal sebagai eks prostitusi, menjadi lingkungan dan kawasan seni.

Untuk mewujudkannya, sejumlah anak muda Surabaya yang tergabung dalam Gerakan Melukis Harapan dan TBM Kawan Kami bekerjasama mengajak anak-anak Dolly untuk ikut serta. Jumlahnya 30 anak, masing-masing dari Putat Jaya, Banyu urip, dan Simo Gunung Keramat.

Sevirna R A, Pimpro Pentas Tunggal membenarkan hal ini.

Mahasiswi Unair sekaligus anggota Gerakan Melukis Harapan ini menuturkan sebelumnya anak-anak hanya bermain teater saat ada undangan, bahkan beberapa tidak saling kenal. Dirinya dan tim memintakan izin kepada masing-masing orangtua agar anaknya boleh ikut serta.

"Tujuan utama kami seperti yang sudah disampaikan sebelumnya. Supaya anak-anak ini tahun 2016 dan tahun-tahun selanjutnya tidak dikenal tinggal di tempat prostitusi. Mereka sudah berubah wajahnya menjadi kawasan seni," tegasnya.

Acara pentas tunggal ini dihadiri 350an orang dari berbagai kalangan. Mulai mahasiswa, pegiat seni, hingga pemerintahan. Sebagai penutup acara, panggung dimeriahkan oleh monolog Rudolf Puspa, Teater Keliling Jakarta.

Penulis: Pipit Maulidiya
Editor: Parmin
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved