Breaking News:

Citizen Reporter

Curi-curi Waktu Berliterasi, Eni Kusuma memang Bukan (Mantan) TKW Biasa

Eni memulung ide dari mana saja, mengumpulkan dan saat punya waktu memindahkannya ke komputer dan membaginya di milis.. dari babu jadi penulis buku

Editor: Tri Hatma Ningsih
pixabay
ilustrasi 

Reportase Suci Ayu Latifah
Mahasiswa STKIP PGRI Ponorogo

UANG bisa cepat habis, kalau ilmu tidak. Itu dituturkan Eni Kusuma (39), mantan tenaga kerja wanita (TKW) asal Banyuwangi saat berbagi pengalaman di Sekolah Literasi Gratis (SLG) di STKIP PGRI Ponorogo, Minggu (18/12/2016) lalu. 

“Uang bukan jailangkung, datang tak diundang, pulang tak diantar,” canda Eni Kusum yang menjadi TKW selama enam tahun (2001-2007) di Hongkong karena memang harus berburu uang.

Namun, Eni Kusuma juga meyakini, uang tidak bisa menjamin kehidupan dan masa depan seseorang. Eni pun membandingkan dengan kekayaan ilmu.

Menurutnya, butuh dua syarat untuk memiliki kekayaan ilmu, yaitu niat dan yakin. Niat memeroleh ilmu, memahami, merenungkan, dan yakin untuk mengamalkannya.

Ilmu itu luas, berserakan di mana-mana. Ilmu bergerak, tidak diam di tempat. Menurut Eni Kusuma, sampai matahari terbit di ufuk barat pun, ilmu tidak akan habis. Ilmu justru bertambah dan berkembang. Ilmu juga beragam tergantung sudut pandang penikmat ilmu.

Misalnya, ilmu tentang makhluk hidup. Dilihat dari sudut pandang biologi, makhluk hidup meliputi manusia, hewan, tumbuhan, dan lainnya. Berbeda sudut pandang geografi, makhluk hidup tak hanya manusia, hewan, atau tumbuhan tapi semua yang ada di alam, termasuk planet dan benda langit.

Eni Kusuma memang tidak seperti TKW lainnya. Uang gajian dari majikan, ia simpan, bukan digunakan untuk belanja atau jalan-jalan. Ia memanfaatkan gajinya untuk membeli buku, karena semenjak SMA ia suka membaca buku.

“Di Hongkong, saya sering pergi ke perpustakaan dan toko buku. Saya jarang jalan-jalan, pernah dulu sekali ke Victoria Park,” ungkap Eni Kusuma, lugu.

Tak heran, tukar pengalaman literasi ala Eni Kusuma membuat peserta SLG hari itu memancing banyak pertanyaan peserta. Seperti Siti Rahmawati, pelajar SMA Hudaya Ponorogo yang penasaran dengan cara Eni Kusuma menulis di sela-sela waktunya menjadi TKW.

Ternyata Eni Kusuma harus menulis di bawah selimut dengan penerangan cahaya hanphone karena lampu kamar harus dimatikan di malam hari. Atau, ketika bekerja dan tiba-tiba ada ide, ia menuliskannya di kertas dan diselipkan di kolong kulkas untuk diambil kembali di malam hari.

Kok? “Karena majikan saya keras. Jadi kalau nulis seperti anak main petak umpet,” kisah Eni Kusuma yang akhirnya bisa membukukan buku motivasi Anda Luar Biasa dan Mitra Kerja Tanpa Pamrih.

Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved