Breaking News:

Berita Jombang

Rusak Jalan dan Cemari Sumur, Warga Ngoro Jombang Protes Tambang Galian C

“Warga terpaksa menggunakan air kemasan untuk kebutuhan rumah tangga. Sebab tambang galian menyebabkan air menjadi keruh dan berwarna hijau. Warga tid

Penulis: Sutono | Editor: Yoni
surya/sutono
Sejumlah warga Dusun Payaksantren, Rejoagung, Ngoro, saat melakukan protes terhadap aktivitas penambangan bahan galian C. 

SURYA.co.id | JOMBANG - Puluhan warga Dusun Payak Santren, Desa Rejoagung, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jatim berdiri di tengah jalan desa setempat, Minggu (25/12/2016).

Mereka memrotes sekaligus menolak aktivitas penambangan bahan galian C yang menggunakan peralatan mekanik maupun manual, yang berada di dusun setempat.

Dengan membawa spanduk bertuliskan ‘Kami masyarakat Dusun Payak Santren Menolak Adanya Galian Lahan Berupa Mekanik/Manual’, mereka menyuarakan protes dan penolakan aktivitas penambangan bahan galian C, baik berupa pasir maupun tanah di dusunnya.

Mereka beralasan, dengan adanya galian tersebut, warga terkena dampaknya. Antara lain, air sumur di desa menjadi keruh dan dan jalan desa menjadi rusak akibat lalu lalang truk pengangkut bahan galian tersebut.

“Warga terpaksa menggunakan air kemasan untuk kebutuhan rumah tangga. Sebab tambang galian menyebabkan air menjadi keruh dan berwarna hijau. Warga tidak berani menggunakannya,” terang Sasmiko (45), warga setempat kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).

Kecuali itu kendaraan truk pengangkut bahan galian C, juga merusak jalan di desa setempat. Akibatnya, sekitar 1.050 warga dusun setempat harus melewati jalan rusak, meskipun baru dibangun 3 bulan silam.

“Jalan belum sampai 3 bulan dibangun sudah rusak kembali akibat dilalui kendaraan bermuatan tanah hasil galian. Kami yang terkena dampaknya, karena transportasi ke lain desa jadi terhambat,” katanya kepada Surya (TRIBUNnews.com Network).

Dari keterangan warga lainnya, di Dusun Payaksantren terdapat sedikitnya 9 galian. Namun, yang masih aktif dan beroperasi hingga saat ini satu lokasi.

Namun yang sudah tidak aktif itu tidak direklamasi, sehingga meninggalkan lubang-lubang menganga di sepanjang jalan dusun.

“Delapan bekas lokasi tambang hingga saat ini dibiarkan menganga dengan kedalaman rata-rata dua meter. Dan itu membahayakan jelas warga sekitar,” cetus Sasmiko.

Warga mengaku, sudah mengadukan kasus tersebut ke Pemkab Jombang, pada 21 November lalu. Namun, hingga saat ini belum ada respon nyata dari Pemkab Jombang.

“Surat protes kami kirimkan ke Pemkab Jombang dengan tembusan DPRD dan ke Kepolisian. Namun hingga sekarang belum direspon,” kata Sasmiko, di lokasi.

Baca selengkapnya di Harian Surya edisi besok
LIKE Facebook Surya - http://facebook.com/SURYAonline
FOLLOW Twitter Surya - http://twitter.com/portalSURYA

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved