Rabu, 29 April 2026

Berita Ekonomi Bisnis

Ribuan Sapi Pesanan Satroni Tiba di Perak, selanjutnya Sapi-Siap itu akan Perlakukan seperti ini

"SAYA SUDAH dua periode bermitra dengan Santori. Ini siap-siap untuk ketiga," kata Misran.

Tayang:
Penulis: Sri Handi Lestari | Editor: Parmin
surya/sri handi lestari
Petugas mengecek kedatangan ribuan sapi. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Sekitar 3.700 ekor sapi dari Australia, tiba di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, Minggu (25/12/2016).

Sapi-sapi itu merupakan sapi impor milikPT Santoria Agrindo (Santori), anak perusahaan PT Japfa Group, yang bergerak di bidang pengembangan sapi potong.

Setibanya di pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, sapi-sapi itu kemudian dikirim ke lokasi pengembangan sapi potong Santori di Wringin Anom, Tongas, Probolinggo.

Dari PT Santori, sapi-sapi itu dikembangkan melalui program kemitraan dengan para peternak di beberapa wilayah di Jatim.

Salah satu peternak adalah Misran, warga Krajan, Gading Kulon, Dau, Kabupaten Malang.

"Saya sudah dua periode bermitra dengan Santori. Ini siap-siap untuk ketiga," kata Misran.

Program kemitraan yang ketiga, Misran akan mendapatkan sapi impor asal Australia itu yang sudah dipastikan bunting dan dia rawat sampai anaknya lahir.

"Selama saya bawa, saya rawat kemudian indukannya saya jual kembali ke Santori, anaknya saya pelihara sampai berat badan tertentu, kemudian bisa dijual kembali," jelas Misran.

Periode pertama, Misran membeli sapi melalui program penyelamatan sapi perah. Setelah itu, program kedua sebanyak 35 ekor pedet (anak sapi) yang akan dipelihara dan digemukkan sesuai target berat badan yang sesuai.

Program yang ketiga, sapi yang baru datang dari Australia ini akan menjalani pemeriksaan. Kemudian diinseminasi buatan untuk buting. Setelah buting enam bulan, dijual ke peternak melalui program kemitraan.

"Dari periode pertama, saya bisa dapat untung 50 persen. Periode kedua masih proses, dan tahan ketiga, saya siap ambil sapi bunting ini nantinya," kata Misran.

Kepala Unit Santori Probolinggo, Bintoro Tantono mengatakan bahwa sebenarnya program kerjasama dengan peternak ini sudah dilakukan sejak pertengahan tahun 2016. Namun belum bisa maksimal karena masih perlu perbaikan dari berbagai faktor.

Di tahun 2016, dari target 42 peternak yang bisa bekerjasama, realisasinya hanya sekitar 10 peternak yang berada di Malang.

Dari 10 peternak itu ada sekitar 45 ekor sapi indukan dan 27 ekor sapi pedet ( terlahir di kandang Santori) yang sudah didistribusikan.

"Dari ke-45 ekor sapi indukan tersebut, sudah ada 40 pedet yang terlahir. Karena kami mengirimnya ke peternak disaat sapi sudah bunting 6 bulan. Pembuntingan ini kami yang lakukan karena biasanya untuk membuat bunting sulit,"jelas Bintoro.

Sapi-sapi yang didistribusikan itu adalah sapi yang telah diimpor Santori sepanjang 2016.

Dari data yang ada, sejak April hingga Desember 2016, baik yang diimpor melalui Surabaya ataupun Lampung, ada sekitar 6.898 ekor sapi indukan. Saat ini sebagian besar berasa di kandang koloni seluas 60 hektar milik Santori di Tongas Probolinggo.

"Karena penyerahan ke peternak sapi harus bunting 6 bulan, maka untuk yang datang kali ini akan kami serahkan pada Semester II tahun depan. Target kami tidak hanya peternak di Malang dan Probolinggo, tetapi untuk seluruh peternak di 25 kabupaten di seluruh Jatim," lanjut Bintoro.

Mekanisme kerjasama dengan peternak adalah dengan menggandeng Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang bertindak sebagai penjamin kredit dengan bunga 9 persen.

Mulai dari harga sapi, pakan, obat, asuransi hingga transportasi semuanya dibiayai BRI. Di semester I/2017, BRI akan menyiapkan dana sekitar Rp 30 miliar.

Dan di Semester II/2017 akan menyiapkan dana sekitar Rp 90 miliar. Peningkatan nilai kredit yang disiapkan itu karena terget pendistribusian sapi ke peternak diperbesar dari 200 ekor per bulan di semester I/2017 menjadi 600 ekor sapi per bulan di Semester II/2017.

Sementara jumlah sapi yang diserahkan ke peternak juga semakin besar, dari 5 ekor per peternak menjadi 10 ekor per peternak.

"Peternak tinggal menyiapkan kandang dan tenaga kerja serta agunan sebagai persyaratan kredit BRI. Untuk pakan hijau, mereka juga bisa menanam rumput odot. Kalau tidak punya tanah, mereka bisa bekerjasama dengan petani lain. Jadi bisa semakin banyak petani yang dilibatkan," terangnya.

Direktur Jenderal Peternakan Kementerian Pertanian, I Ketut Diarmita mengapresiasi langkah yang dilakukan oleh Santori. Karena sejauh ini, Indonesia masih belum swasembada sapi secara nasional. Ada kekurangan sekitar 33 persen dari total kebutuhan sapi dalam negeri.

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved