Jamu Masih Digemari Anak Muda, Penjualannya Tumbuh 15 Persen

TREN KONSUMEN JAMU. Saat ini, konsumen jamu tradisional 45 persen, suplemen 35 persen, dan mnimuan kesehatan 20 persen.

surya/mujib anwar
ARSIP - Owner PT Jamu Iboe Jaya Stephen Walla (kanan) dan Product Group Manager Perry Anglishartono lagi santai ditemani minuman kesehatan, Kamis (20/10/2016) di Gerai Jamu Iboe, dalam Pameran Produksi Indonesia (PPI) 2016, di Grand City, Surabaya. 

SURYA.co.id | SURABAYA - Penjualan produk jamu dan minuman kesehatan sepanjang tahun ini mencatatkan pertumbuhan hingga 15 persen. 

Ini seiring makin digemarinya jamu, herbal, dan minuman kesehatan oleh masyarakat, khususnya anak muda.

Owner PT Jamu Iboe Jaya, Stephen Walla mengatakan, meski kondisi ekonomi masih slowing down, hal itu tak berdampak signifikan terhadap pasar jamu di domestik. Permintaan terhadap produk jamu, suplemen (herbal), dan minuman kesehatan masih tetap stabil. Bahkan tumbuh tipis.

Jika tahun 2015, penjualan tumbuh 11 persen. Tahun 2016 ini, pertumbuhan mencapai 15 persen. 

"Tahun depan, kita berharap pertumbuhan lebih baik lagi," ujarnya, Selasa (20/12/2016). 

Menurut Stephen, dari total penjualan tersebut, market Jatim memberikan kontribusi terbesar dengan 35 - 40 persen. Setelah itu, baru market  di sejumlah wilayah lain yang berada di Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi. 

"Kontribusinya hampir merata. Misalnya antara Bali, Solo, Jakarta, dan Medan," jelasnya. 

Selain pasar domestik, pihaknya, kata Stephen juga mulai mengembangkan pasar ekspor, terutama ke Malaysia, Hongkong, dan Taiwan yang banyak terdapat tenaga kerja Indonesia (TKI).

"Tapi kontribusinya kecil, masih di bawah 5 persen," ucapnya.

Meski demikian, ceruk pasar ekspor dinilai cukup prospektif. Ini terlihat dari adanya permintaan sejumlah negara, seperti India dan Afrika Barat untuk dikirimi produk Jamu Iboe.

Halaman
12
Penulis: Mujib Anwar
Editor: Yuli
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved