Breaking News:

Citizen Reporter

Telat Masuk Kelas 30 Menit, 9 Mahasiswa STKIP PGRI Ponorogo Ini Diganjar Sanksi Literasi Baca Puisi

hukuman fisik bukan zamannya lagi diterapkan pada mahasiswa, maka sanksi literasi terasa pas dijatuhkan untuk para mahasiswa abai ini ..

kaboompics/px
ilustrasi 

Reportase Suci Ayu Latifah
Mahasiswa STKIP PGRI Ponorogo

TEORI belajar behavioristik merupakan metode pembelajaran perubahan sikap atau tingkah laku sebagai akibat dari interaksi antara stimulus dan respons. Hukuman fisik bukanlah salah satu hukuman yang mendidik.

Maka, lihatlah apa yang diterapkan Suprapto, dosan Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) PGRI Ponorogo, Selasa (6/12/2016), di ruang 102. Sembilan mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia angkatan 2015 terlambat masuk ruang kuliah lebih dari 30 menit.

Menyikapi hal itu, dosen pengampu mata kuliah korespondensi itu, menjatuhkan sanksi literasi, membaca puisi berantai secara spontan. Tema puisi dibebaskan sesuai kemampuan dan keinginan mahasiswa pelanggar.

Menurut Suprapto, hukuman membaca pusisi diberikan berdasarkan jurusan yang mereka tempuh saat ini. Dengan harapan dapat dijadikan proses latihan mahasiswa jurusan bahasa Indonesia dalam membuat dan membaca puisi.

Tema puisi yang dipilih adalah bunga. Di awali bait ... hitam dan putih bunga mawar berduri / menusuk jantung ini / ini / inilah kurasa duri mawar merobek jantung paksa / paksa dan kutarik pelan duri mawar dengan lirih ... hati terasa terpenjara dalam duri mawar hitam ...

Hukuman hari itu, tidak sekadar hukuman biasa. Terlebih, menciptakan dan meningkatkan kreativitas mahasiswa terkait puisi. Sebab, mau tak mau pada semester lima akan ada mata kuliah kajian puisi.

 Uniknya, mahasiswa yang semula malu berbicara pun menjadi angkat bicara dan mulai berpuisi. Pasalnya, tak mungkin pelanggar akan berdiri selamanya di depan 30 mahasiswa lain di dalam kelas. Pasti sangat memalukan.

Begitu membaca puisi usai, Suprapto mengungkapkan terkait hukuman bagi mahasiswa yang terlambat lebih dari 30 menit akan diberlakukan setiap kali pertemuan.

“Siapa yang terlambat, harus siap mendapatkan hukuman. Entah berpuisi, bernyanyi, berpantun, stand up, atau lainnya,” ujar Suprapto.

Editor: Tri Hatma Ningsih
Sumber: Surya Cetak
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved